Alasan Polisi Amankan Belasan Warga Papua Saat Unras di Kedubes AS: Dilarang Saat PPKM

Kapolres Metro Jakarta Pusat, Kombes Pol Hengki Haryadi, menjelaskan alasan pihaknya mengamankan warga Papua karena dilarang berunjuk rasa saat PPKM l

Penulis: Muhammad Rizki Hidayat | Editor: Erik Sinaga
TribunJakarta/Muhammad Rizki Hidayat
Ilustrasi Kapolres Metro Jakarta Pusat, Kombes Pol Hengki Haryadi, menjelaskan alasan pihaknya mengamankan warga Papua karena dilarang berunjuk rasa saat PPKM level 3. 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Muhammad Rizki Hidayat

TRIBUNJAKARTA.COM, KEMAYORAN - Polres Metro Jakarta Pusat telah mengamankan belasan warga Papua saat berunjuk rasa di kantor Kedubes Amerika Serikat, Jalan Medan Merdeka Selatan, pada Kamis (30/9/2021) siang.

Kapolres Metro Jakarta Pusat, Kombes Pol Hengki Haryadi, menjelaskan alasan pihaknya mengamankan mereka karena dilarang berunjuk rasa saat PPKM level 3.

"Perlu kami jelaskan sekali lagi, saat ini di DKI Jakarta masih PPKM level 3. Segala kegiatan yang berpotensi menimbulkan kerumunan itu dilarang," jelas Hengki, kepada awak media, Jumat (1/10/2021).

Baca juga: Mahasiswa Unjuk Rasa di Simpang Rawamangun, Protes Dipecatnya 57 Pegawai KPK

"Artinya dalam penyampaian pendapat di muka umum harus melihat situasi dan peraturan yang sedang berlaku," lanjutnya.

Hengki melanjutkan, pihaknya berupaya menerapkan protokol kesehatan perihal Covid-19.

"Jika orang tersebut menempatkan orang lain pada situasi berbahaya itu merupakan pelanggaran pidana," ucap Hengki.

Hengki mengklaim anggotanya juga mendapat perlawanan dari peserta unjuk rasa orang asli Papua (OAP) tersebut.

"Pengrusakan terhadap kendaraan milik Polri, bahkan anggota kami ada yang dianiaya," ujar dia.

Baca juga: Polres Metro Jakarta Pusat Melarang Keras Unjuk Rasa Saat PPKM

"Nah, sekarang sedang dalam perawatan dan semua mahasiswa atau yang mengaku dari aliansi mahasiswa Papua, free West Papua ini kita periksa di Polres Metro Jakarta Pusat," tutup Hengki.

Sementara itu, Perwakilan Tim Advikasi Papua, Citra Referandum, mengatakan ada 17 OAP yang diamankan Polres Metro Jakarta Pusat.

"Kapolres Metro Jakarta Pusat harus melepaskan 17 orang asli Papua (OAP)," kata Citra melalui pesan yang diterima TribunJakarta.com, Jumat (1/10/2021).

Dia menjelaskan, ketika koordinator Lapangan (korlap) hendak mengarahkan massa aksi untuk menyampaikan pendapat, aparat langsung memerintahkan membubarkan diri dengan alasan situasi Covid-19.

Menurutnya, pembubaran massa aksi dilakukan secara paksa dan tanpa dasar.

Baca juga: Tak Punya Izin Unjuk Rasa di Dekat Istana Negara, Polisi Angkut 8 Demonstran

Citra mengatakan, massa aksi didorong masuk ke dalam mobil lalu dibawa ke Polres Metro Jakarta Pusat.

"Salah satu massa aksi yang tidak tahan dengan gas air mata dilempar oleh pihak polisi keluar dari mobil dan terluka di bagian kakinya," klaim Citra.

"Sedangkan massa aksi yang lain harus berdesakan di dalam mobil karena pintu terkunci dari luar," lanjutnya.

Pada saat pembubaran, kata Citra, terdapat massa aksi yang terkena pukulan di bagian mata.

"Diinjak, ditendang, dan dua orang perempuan Papua mengalami pelecehan seksual," tutup Citra.

Sumber: Tribun Jakarta
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved