Belasan Warga Papua Diamankan Polisi, Kapolres Metro Jakarta Pusat Klaim Akibat Anggotanya Dianiaya

Kapolres Metro Jakarta Pusat, Kombes Pol Hengki Haryadi, menjelaskan alasan pengamanan belasan OAP inu karena diduga merugikan pihaknya

Dok Polisi
Kapolres Metro Jakarta Pusat, Kombes Pol Hengki Haryadi, saat penyerahan piagam kepada relawan vaksinasi Covid-19, Jumat (20/8/2021) 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Muhammad Rizki Hidayat 

TRIBUNJAKARTA.COM, KEMAYORAN - Polisi telah mengamankan belasan orang asli Papua (OAP) yang sempat berunjuk rasa di depan Kedubes AS, di Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Kamis (30/9/2021) kemarin.

Kapolres Metro Jakarta Pusat, Kombes Pol Hengki Haryadi, menjelaskan alasan pengamanan belasan OAP itu karena diduga merugikan pihaknya.

"Kami sudah berusaha sehumanis mungkin, malah kami menggunakan APD (Alat Pelindung Diri) lengkap untuk membubarkan dan mengamankan mereka," jelas Hengki, kepada awak media, Jumat (1/10/2021).

"Tapi yang terjadi, kendaraan mobil milik Polri dirusak dan anggota kami dianiaya," lanjut Hengki. 

Kini, kata Hengki, anggota polisi tersebut masih dalam perawatan.

"Anggota kami sekarang sedang dalam perawatan," ucapnya. 

"Semua mahasiswa atau yang mengaku dari aliansi mahasiswa Papua, free West Papua ini masih dieriksa," sambungnya. 

Menyoal unjuk rasa, Hengki menyebut massa aksi dari OAP ini tidak berizin. 

"Mereka tanpa izin dan pemberitahuan. Ini tidak diperbolehkan melaksanakan kegiatan yang bisa berpotensi menimbulkan kerumunan di masa pandemi," tuturnya.

Baca juga: Alasan Polisi Amankan Belasan Warga Papua Saat Unras di Kedubes AS: Dilarang Saat PPKM

Sementara itu, Perwakilan Tim Advikasi Papua, Citra Referandum, mengatakan ada 17 OAP yang diamankan Polres Metro Jakarta Pusat

"Kapolres Metro Jakarta Pusat harus melepaskan 17 orang asli Papua (OAP)," kata Citra melalui pesan yang diterima TribunJakarta.com, Jumat (1/10/2021).

Dia menjelaskan, ketika koordinator Lapangan (korlap) hendak mengarahkan massa aksi untuk menyampaikan pendapat, aparat langsung memerintahkan membubarkan diri dengan alasan situasi Covid-19.

Menurutnya, pembubaran massa aksi dilakukan secara paksa dan tanpa dasar.

Citra mengatakan, massa aksi didorong masuk ke dalam mobil lalu dibawa ke Polres Metro Jakarta Pusat

"Salah satu massa aksi yang tidak tahan dengan gas air mata dilempar oleh pihak polisi keluar dari mobil dan terluka di bagian kakinya," klaim Citra.

"Sedangkan massa aksi yang lain harus berdesakan di dalam mobil karena pintu terkunci dari luar," lanjutnya. 

Pada saat pembubaran, kata Citra, terdapat massa aksi yang terkena pukulan di bagian mata.

"Diinjak, ditendang, dan dua orang perempuan Papua mengalami pelecehan seksual," tutup Citra.

Sumber: Tribun Jakarta
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved