Jual Ayam Sejak Era Sukarno, Kakek Kelahiran Tahun 1945 Ini Bersyukur Dapat Untung Rp 25 Ribu Sehari

Jual ayam sejak era Sukarno menjabat presiden Indonesia sampai hari ini, kakek kelahiran tahun 1945 ini tetap bersyukur dengan rezeki yang didapatnya.

Penulis: Elga Hikari Putra | Editor: Yogi Jakarta
Youtube Lembur Pakuan
Endang, kakek yang sudah berjualan ayam sejak era Sukarno saat bertemu Dedi Mulyadi. 

TRIBUNJAKARTA.COM - Jual ayam sejak era Sukarno menjabat presiden Indonesia sampai hari ini, kakek kelahiran tahun 1945 ini tetap bersyukur dengan rezeki yang didapatnya.

Meskipun keuntungannya dari berjualan ayam kampung setiap harinya hanya Rp 25 ribu sehari, kakek bernama Endang itu masih bersyukur karena tetap diberi kesehatan.

Dia pun masih kuat mengayuh sepedanya dengan jarak yang cukup jauh untuk menjajakan ayam kampung dagangannya.

Setiap harinya, Endang memang hanya membawa lima ekor ayam kampung yang ditaruh di kandang yang diikat di belakang sepedanya.

Ayam kampung itu bukan dipeliharanya sejak kecil, melainkan dibelinya dari distributor.

Baca juga: Putus Sekolah Lalu Gantikan Ayah Jadi Tulang Punggung, Perjuangan Siti Buat Dedi Mulyadi Kagum

Kata dia, seekor ayam kampung itu dibeli Rp 75 ribu dan kemudian ia menjualnya Rp 80 ribu.

"Berarti abah hanya ambil untuk Rp 5 ribu aja, kemurahan atuh bah," kata Anggota DPR RI Dedi Mulyadi saat bertemu Endang seperti dilansir dari Youtube Lembur Pakuan Channel, Rabu (17/11/2021).

"Iya itu juga masih ada yang suka nawar," jawab Endang.

Endang, kakek yang sudah berjualan ayam sejak era Sukarno saat bertemu Dedi Mulyadi.
Endang, kakek yang sudah berjualan ayam sejak era Sukarno saat bertemu Dedi Mulyadi. (Youtube Lembur Pakuan)

"Berarti abah sehari cuma dapat untung Rp 25 ribu aja," kata Kang Dedi menghitung keuntungan yang diperoleh Endang setiap harinya.

Berjualan Sejak 69 Tahun Silam

Kepada Kang Dedi, Endang yang kini berusia 76 tahun itu mengaku sudah berjualan ayam sejak tahun 1952 atau ketika Sukarno masih menjadi presiden Indonesia.

Namun dia tak menjelaskan apakah awalnya ikut berdagang bersama orangtuanya atau tidak.

Sebab, bila benar berjualan ayam sejak tahun 1952 maka saat itu usia Endang masih 7 tahun.

Baca juga: Bantu Janda Dagang Getuk, Dedi Mulyadi Ingatkan Sang Anak Juga Harus Hidup Prihatin

Sementara itu, beberapa tahun silam, dia berjualan ayam kampung ini tak berkeliling menggunakan sepeda melainkan menetap di pasar.

Halaman
123
Sumber: Tribun Jakarta
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved