Mengenang Mangkunegoro VI, Raja Jawa Revolusioner: Pendiri Sekolah Perempuan dan Pendobrak Tradisi

Syahdan, hidup seorang Raja Jawa yang melompati zamannya dan memimpin dengan gaya modern tanpa melepaskan tapak kakinya dari tanah tradisi.

Istimewa
Cagar Budaya Astana Oetara. 

Kemandirian dan jiwa merdeka Mangkunegoro VI membuatnya tidak merasa berat turun takhta atas kemauannya sendiri. Pengunduran diri tersebut tidak hanya menunjukkan bagaimana hubungan pemerintah kolonial dan penguasa lokal yang subordinatif di akhir masa abad ke-19 dan awal abad ke-20, tetapi juga bentuk political awareness Mangkunegoro VI sebagai sosok yang modern dalam membaca konteks perubahan awal abad ke-20, di mana pemerintah kolonial Belanda benar-benar menguasai hampir seluruh aspek perikehidupan di tanah jajahan.

Berbekal pengalamannya yang kaya selama mengurus pabrik gula paling modern di Jawa masa itu, ia dengan begitu percaya diri beralih profesi menjadi pedagang.

Dalam konteks era tersebut, Mangkunegoro VI menolak segala bentuk sistem kolonial dengan cara walk out, keluar total dari keadaan macam demikian, dan bergabung dengan komunitas baru di Kota Surabaya yang lebih progresif, di mana selanjutnya putra dan menantunya melanjutkan konsep tata negara yang tidak dapat dilaksanakan melalui sebuah Kadipaten.

“Mangkunegoro VI adalah paket komplet seorang pemimpin baru: sederhana, piawai, dan berani. Dengan mempertimbangkan segala aspek kelebihan dan kelemahannya selama memerintah Praja Mangkunegaran, kami kira ia cocok disebut sebagai personifikasi raja baru di awal abad ke-20: the king in the turning of a century,” tutur Bondan Kanumoyoso.

Sikap dan pemikiran Mangkunegoro VI yang berani dan progresif dalam memimpin serta melakukan perubahan mendasar dalam urusan keuangan, fashion, aturan tata krama, gaya hidup di keraton, hingga multikulturalisme dan kebebasan beragama diharapkan mampu menginspirasi anak muda masa kini untuk jadi pembaru di kehidupannya.

Sementara itu, Krisnina Akbar Tandjung sebagai sosok pemerhati budaya yang memiliki ketertarikan khusus terhadap sejarah perempuan menyoroti mengenai bagaimana perempuan pada masa itu mampu memberikan pengaruh pada kondisi sosial.

“Era di Mangkunegoro VI adalah era politik etis dimana perubahan yang sangat mendasar adalah perubahan tatanan sosial dan peran perempuan, yang dimotori oleh sosok R.A. Kartini pada 1879-1904. Nilai-nilai perjuangan Kartini turut menginspirasi Mangkunegoro VI untuk mendirikan sekolah khusus perempuan," kata Krisnina

“Sosok Mangkunegoro VI dapat menjadi keteladanan masa kini, seorang Raja yang memiliki visi ke depan, modern, dan mau mendobrak nilai-nilai tradisional sehingga sesuai dengan kemajuan masa itu,” imbuhnya.

Mangkunegoro VI mereformasi protokol kerajaan yang rumit dan berbelit-belit yang dianggapnya tidak lagi sesuai dengan kemajuan zaman. Hal-hal seperti mengadopsi pakaian Barat pun menurutnya bukan merupakan hal terlarang, karena seseorang dapat menjadi orang Jawa sekaligus orang modern. 

Keunikannya dalam berbusana menjadikan Didiet Maulana, sebagai seorang desainer yang memiliki kepedulian terhadap budaya Indonesia untuk menyampaikan relevansi sikap dari Mangkunegoro VI dengan kondisi masa kini.

“Mangkunegoro VI adalah bukti nyata bahwa kita seharusnya bisa hidup dengan mengombinasikan gaya modern dengan tetap mempertahankan nilai adat dan tradisi. Tidak hanya mengganti aturan, dia juga terjun untuk memberi contoh langsung kepada Praja Mangkunegaran misalnya memangkas rambutnya menjadi pendek dan membuat tutup kepala yang praktis (Mits)."

"Mangkunegoro VI menjadi inspirasi untuk selalu memberi contoh pada generasi penerus agar bisa tetap mempertahankan nilai-nilai tradisional yang kita miliki dalam pengembangan sesuatu yang berbau modernisasi," kata Didiet.

Astana Oetara

Pasarean Keluarga (Makam) Astana Oetara adalah rumah peristirahatan terakhir Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Ario (K.G.P.A.A.) Mangkunegoro VI (1896-1916) dan keturunannya, beserta pegawai Mangkunegaran yang dianggap memiliki jasa besar pada era kepimimpinan K.G.P.A.A. Mangkunegoro VI.  Makam ini dibangun pada tahun 1926, menempati lahan seluas ±1,4 hektare berlokasi di Desa Manayu atau Nayu, Kelurahan Nusukan, Kecamatan Banjarsari, Kota Surakarta.

Halaman
123
Sumber: Tribun Jakarta
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved