Breaking News:

Tak Hanya AIDS, Sederet Penyakit 'Sillent Killer' Ini Masih Mendominasi Kesehatan di Indonesia

Dijelaskannya, beberapa di antara penyakit berbahaya tersebut bahkan dikenal dengan istilah 'silent killer' karena memiliki sifat tanpa gejala di awal

Daily Mail
Ilustrasi serangan jantung 

Beberapa Penyakit 'Sillent Killer' Masih Mendominasi Dunia Kesehatan di Indonesia

Laporan wartawan TribunJakarta.com, Pebby Adhe Liana

TRIBUNJAKARTA.COM, JAKARTA - 1 Desember diperijgnati sebagai Hari AIDS Sedunia.

Berbagai pengetahuan tentang penyakit ini turut disebarkan oleh para praktisi kesehatan untuk meningkatkan kepedulian masyarakat pada bahaya penyakit AIDS.

Namun, tak hanya ada HIV/AIDS, sederet penyakit berbahaya lain juga masih mendominasi kesehatan di Indonesia.

Dokter Penanggungjawab Klinik Utama Glori Medika Sunter, dr Henny Fachrudin mengatakan Indonesia masih mengalami double burden of disease, di mana penyakit menular masih menjadi tantangan dan penyakit tidak menular meningkat tajam.

"Penyakit tidak menular atau penyakit kronis dengan durasi yang panjang, dengan proses penyembuhan atau pengendalian kondisi klinis yang umumnya lambat, seperti tekanan darah tinggi, diabetes, penyakit jantung dan pembuluh darah, penyakit paru obstruktif kronis, dan bebagai jenis kanker mengalami peningkatan, dan menjadi penyebab terbesar kematian berdasarkan riset WHO pada tahun 2013,” kata dia dalam keterangan resminya, Kamis (2/12/2021).

Baca juga: Peringati Hari AIDS Sedunia, Puluhan Warga Ikuti Tes HIV Gratis di Puskesmas Kramat Jati

Baca juga: Sepanjang Tahun 2015-2021, 12.865 Warga Jakarta Selatan Terinfeksi HIV/AIDS

Penyakit yang banyak menyerang masyarakat, antara lain seperti hipertensi, diabetes mellitus, kanker, dan penyakit paru obstruktif kronik (PPOK).

Dijelaskannya, beberapa di antara penyakit berbahaya tersebut bahkan dikenal dengan istilah silent killer karena memiliki sifat tanpa gejala di awal.

"Saat akhirnya menyadari, ia telah mendapati dirinya sudah memiliki penyakit penyulit atau komplikasi," imbuhnya.

Baca juga: Sebanyak 735 Badan Usaha di Jakarta Utara Menunggak Iuran JKN-KIS Lebih 12 Bulan

Dijabarkannya, Riskesdas 2013 dan studi di puskesmas menunjukkan hanya sepertiga penderita hipertensi (36,8%) yang terdiagnosis oleh tenaga kesehatan dan hanya 0,7% yang berobat.

Halaman
123
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved