Penggerak Budidaya Kopi di Kamojang, Darman Hadirkan Sederet Manfaat untuk Warga & Lingkungan

Industri kopi di Indonesia makin tumbuh subur seiring makin mendapatkan tempat di hati semua kalangan.

ISTIMEWA
Darman merupakan anggota Kelompok Tani Kopi dari Kamojang. 

TRIBUNJAKARTA.COM - Industri kopi di Indonesia makin tumbuh subur seiring makin mendapatkan tempat di hati semua kalangan.

Untuk itu, harus didukung dengan budidaya kopi yang cukup masif guna mengembangkan potensi tersebut.

Darman merupakan Kelompok Tani Kopi dari Kamojang yang menghadirkan secercah harapan untuk menggerakan budidaya kopi dan membuka lapangan pekerjaan seluas-luasnya di desanya.

"Program budidaya kopi sebagai aksi nyata menjawab persoalan itu di Kampung Kamojang Desa Laksana, Kecamatan Ibun, Kabupaten Garut," ujar Darman dalam keterangan tertulis, Sabtu (4/12/2021).

Oleh dikarenakan, daerah itu ada 21,65 persen masyarakat usia produktif tidak memiliki pekerjaan tetap dan 3,671 hanya lulusan sekolah dasar.

Selain itu, ada 587 masyarakat merupakan keluarga miskin dan di sana pula ada 9 ton per tahun limbah kopi yang belum dimanfaatkan.

Baca juga: Rasakan Sensasi Vaksinasi Covid-19 di Pasar Slipi Sambil Nikmati Kopi Spesial Racikan Barista

Program budidaya kopi yang mana sudah mengeluarkan brand bernama Kopi Wanakan dan Pelag ingin memberikan manfaat dengan melibatkan Kelompok Tani Gunung Kamojang.

Budidaya kopi di sana didukung dua metode yang mendorong hasil lebih maksimal dan manfaat lebih besar.

"Metode itu dengan penggunaan EBT solar cell yang mana membuat penghematan biaya produksi senilai Rp 6.000.000 per tahun dan pengembangan budidaya lebah untuk membantu penyerbukan tanaman kopi," ujarnya.

Darman yang merupakan binaan dari Indonesia Power (IP) menjelaskan, budidaya kopi itu pun mengutamakan unsur-unsur kebaruan, seperti pengelolahan limpah sampai zero waste dengan menciptakan produk yang bermanfaat.

Baca juga: Tangsel Kota Kopi Bukan Asbun, Ini Penjelasan Pemkot

Pasalnya, di Desa Kamojang itu awalnya ada 9 ton limbah kopi per tahun yang terbuang dan tidak dimanfaatkan.

Limbah itu diolah menjadi produk kaya nutrisi seperti Cascara Cookies dengan omzet per tahun Rp 21.600.00p, hand sanitizer & disinfektan kopi yang omzet per tahun Rp 17.430.000, pellet pakan ikan menghasilkan omzet Rp 2.400.000 per kuintal, dan teh Cascara omzetnya mencapai Rp 26.400.000 pertahun.

Darman menuturkan, budidaya kopi di Desa Kamojang itu bisa dikatakan cukup efektif. Sebab, sudah menghasilkan sederet manfaat bagi masyarakat sekitar dan lingkungan.

Manfaat untuk lingkungan dengan pengurangan pencemaran tanah sebesar 321 kg PO 4-3, menekan pencemaran air 1.140 kg SO 2eq, dan penyerapan CO2 Ton CO 2eq.

Sementara itu, manfaat sosial dengan memberikan akses kepada kelompok tani yang berjumlah 271 orang untuk terlibat budidaya kopi dari hulu sampai hilir.

"Untuk segi ekonomi, budidaya itu menghasilkan peningkatan nilai jual kopi dari Rp 5.000 perkilo menjadi Rp 120.000 perkilo," ujarnya.

Pendapatan pelaku budidaya kopi juga meningkat 67 persen dan pengentasan kemiskinan 65 persen.

Sumber: Tribun Jakarta
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved