Breaking News:

Tidak Adanya Peringatan Dini Saat Erupsi Gunung Semeru, KAWALI: Tanda Kegagalan Mitigasi Bencana

Koalisi Kawali Indonesia Lestari (KAWALI) menyoroti letusan yang terjadi di Gunung Semeru.

Kolase SURYA.co.id/Tony Hermawan/Internet
Kesaksian warga melihat Gunung Semeru meletus sejak Jumat Sore dan kembali meletus dengan guguran lava pijar disertai gemuruh pada Sabtu (4/12/2021) sore. 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Nur Indah Farrah Audina

TRIBUNJAKARTA.COM, GAMBIR - Koalisi Kawali Indonesia Lestari (KAWALI) menyoroti letusan yang terjadi di Gunung Semeru.

Seperti diketahui, Gunung Semeru meletus serta mengeluarkan lava pijar sembari mengeluarkan suara gemuruh sedari Jumat (3/12/2021) sore

Sehari berselang, Sabtu (4/12/2021) sore, Gunung Semeru meletus kembali dan mengeluarkan kepulan abu membumbung tinggi.

Terkait hal ini, Ketua DPW KAWALI Jawa Timur, Wigyo menyoroti perihal early warning system atau peringatan dini.

Ia mengatakan early warning system harus selalu aktif dan tersedia di setiap daerah yang rawan bencana, seperti di desa sekitaran gunung merapi.

Baca juga: Cerita Nenek 60 Tahun Berlari 13 KM Saat Erupsi Gunung Semeru Terjang Rumahnya: Sudah Seperti Kiamat

"Sebagai sensor yang dipasang di dekat seismometer yang akan berbunyi sebagai informasi bahwa ada peningkatan aktivitasa atau lergerakan besar gunung berapi," katanya kepada awak media, Minggu (5/12/2021).

Sayangnya, kata Wiguo, kejadian erupsi Gunung Semeru yang terjadi kemarin justru tidak ada peringatan ata pemberitahuan dini kepada masyarakat.

"Maka sangat bahaya sekali bagi masyarakat sekitar. Sedangkan penjelasan dari Kepala Badan Geologi Kementrian ESDM Eko lelono menyebutkan bahwa pada sekitar pukul 13.30 WIB terekam getaran banjir pada seismograf, tetapi tidak ada peringatan dini sampai sekitar pukul 15.00 WIB ketika masyarakat berhamburan panik saat erupsi terjadi," jelasnya.

Telah terjadi Awan Panas Guguran (APG) Gunung Semeru dengan jarak luncur kurang lebih 4,5 kilometer pada Sabtu (16/1/2020)
Telah terjadi Awan Panas Guguran (APG) Gunung Semeru dengan jarak luncur kurang lebih 4,5 kilometer pada Sabtu (16/1/2020) (Istimewa)

"Sementara dalam saat-saat darurat seperti ini early warning system sangat penting dan diperlukan untuk menunjang mitigasi bencana demi keselamatan warga sekitar," lanjutnya.

Sementara itu, Manager Advikasi dan Kampanye DPN KAWALI, Fatmata Juliasyah menyebut tidak adanya early warning system sebagai pertanda kegagalam sistem mitigasi bencana.

"Dalam hal ini BMKG yang memiliki peranan untuk menyampaikan informasi dan peringatan dini kepada instansi, pihak terkait, dan masyarakat berkenaan dengan bencana akibat faktor geofisika pun dapat dikatakan gagal menjalani perananannya.

Kegagalan sistem mitigasi bencana ini harus mendapat perhatian dari pemerintah pusat karena ini menyangkut nyawa dan keselamatan masyarakat," kata dia.

Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved