Sisi Lain Metropolitan

Menyusuri Megahnya Stasiun Jakarta Kota Peninggalan Belanda Karya Arsitek Kelahiran Tulungagung

Salah satunya, dibangun oleh seorang arsitek Belanda kelahiran Tulungagung, bernama Frans Johan Louwrens Ghijsels.

TribunJakarta.com/Pebby Adhe Liana
Kemegahan Stasiun Jakarta-Kota, yang dibangun dengan konsep art deco pada masa Hindia-Belanda. Stasiun Jakarta-Kota konon merupakan stasiun termegah yang dibangun pada zamannya.  

Laporan wartawan TribunJakarta.com, Pebby Adhe Liana

TRIBUNJAKARTA.COM, JAKARTA - Stasiun Jakarta Kota merupakan salah satu stasiun yang di tetapkan sebagai bangunan cagar budaya.

Bangunan yang sudah berdiri sejak zaman Belanda ini, ditetapkan sebagai cagar budaya berdasarkan SK Gubernur Nomor 475 tahun 1993, 29 Maret 1993, dan juga SK Menbudpar Nomor: PM.13/PW.007/MKP/05, 25 April 2005.

Ada banyak fakta menarik seputar Stasiun Jakarta-Kota.

Salah satunya, dibangun oleh seorang arsitek Belanda kelahiran Tulungagung, bernama Frans Johan Louwrens Ghijsels.

Baca juga: Melihat Kemegahan Gereja Simultan dengan Simbol 4 Agama di Makam Kehormatan Belanda

Manager Preservation and Documentation PT KAI (Persero), Hardika Hadi Rismaji menjelaskan, dahulu stasiun ini dikenal dengan nama Batavia Zuid.

Nama lain dari stasiun ini, juga disebut dengan nama Stasiun Beos, yang merupakan kependekan dari Batavia Ooster Spoorweg Maatschapij yang merupakan perusahaan maskapai angkutan kereta pada masa Hindia-Belanda.

Dalam sejarahnya Stasiun Jakarta-Kota diresmikan pada Oktober 1929 di bawah Gubernur Jenderal A.C.D De Graef yang kala itu berkuasa di zaman Hindia-Belanda.

Baca juga: Menelisik Kisah dari Kota Tua, Dulu Tahanan Belanda Banyak Dieksekusi di Sini

Dibangun dengan berbalutan konsep art deco, Stasiun Jakarta-Kota konon merupakan stasiun termegah yang dibangun pada zamannya.

"Arsiteknya itu, membuat bangunan ini kental dengan nuansa art deco. Dia menggabungkan unsur modern Eropa, dengan kesederhanaan yang ada di lokal. Jadi perpaduan budaya modern dan Indonesia kala itu. Memang kalau dilihat, bangunan kurang lebih ke arah Eropa. Walaupun arsiteknya kelahiran Indonesia di Tulungagung, tapi dia sekolahnya di Eropa," kata Hardika, ditemui TribunJakarta, Selasa (14/12/2021).

Halaman
1234
Sumber: Tribun Jakarta
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved