Peringati Hari Ibu, KPPG Jadikan Momentum Pergerakan Wanita Indonesia di Bidang Politik

PP KPPG memperingati hari ibu dengan menggelar seremoni yang bertema “Kiprah Perempuan GOLKAR dalam Politik sebagai Ibu Bangsa”.

Editor: Wahyu Septiana
ISTIMEWA
Pimpinan Pusat Kesatuan Perempuan Partai GOLKAR (KPPG) sebagai Organisasi Sayap Perempuan Partai GOLKAR sangat memandang penting peringatan Hari Ibu yang mengingatkan kembali akan momentum pergerakan perempuan di Indonesia. 

TRIBUNJAKARTA.COM - Pimpinan Pusat Kesatuan Perempuan Partai GOLKAR (KPPG) memperingati Hari Ibu yang jatuh setiap tanggal 22 Desember dengan menggelar seremoni yang bertema “Kiprah Perempuan Golkar dalam Politik sebagai Ibu Bangsa”.

Acara ini digelar secara hybrid yang dihadiri oleh seluruh pengurus PP KPPG dan PD KPPG se-Indonesia.

KPPG melaksanakan acara ini sebagai bentuk penghormatan dan penghargaan kepada seluruh perempuan Indonesia yang telah berperan besar bagi bangsa, karena perempuan merupakan sekolah pertama bagi anak-anak bangsa.

Dalam seremonial kali ini, KPPG memberikan penghargaan kepada kader-kader perempuan Partai Golkar yang berprestasi di bidangnya masing-masing.

Ada Ibu Yanti Airlangga selaku pegiat sosial dan penggerak budaya yang juga Ketua Umum IIPG, Ibu Hetifah Sjaifudian sebagai aktivis dan akademisi yang juga wakil ketua Komisi X DPR RI, dan Ibu Nurul Arifin selaku pelaku seni dan film serta Anggota Komisi I DPR RI.

Dalam sambutannya Ketua Umum PP KPPG, Airin Rachmy Diani menyatakan bahwa sudah selayaknya bagi perempuan untuk menjadi ibu yang melahirkan ide-ide pembangunan, pemberdayaan, dan berkontribusi terhadap kemajuan negara.

Baca juga: Fraksi Golkar: Interpelasi Anies soal Formula E Sudah Gagal Total, Itu Iseng-Iseng Berhadiah Saja

Menurutnya, sekat penghalang bagi perempuan untuk beraktualisasi sesuai keinginannya hanya ada di pikiran masing-masing.

Hal ini juga sejalan dengan yang diungkapkan oleh Ibu Hetifah Sjaifudian sebagai Ketua Dewan Penasihat PP KPPG, bahwa perempuan harus mandiri dan mampu memberikan pengaruh yang baik bagi bangsa.

Airin Rachmi Diani di Kafe Serona, Pondok Aren, Tangsel, Rabu (27/10/2021).
Airin Rachmi Diani di Kafe Serona, Pondok Aren, Tangsel, Rabu (27/10/2021). (Jaisy Rahman Tohir / TribunJakarta)

KPPG sebagai Organisasi Sayap Perempuan Partai Golkar sangat memandang penting peringatan Hari Ibu yang mengingatkan kembali akan momentum pergerakan perempuan di Indonesia khususnya di bidang politik serta pentingnya peran perempuan sebagai tiang negara dan ibu bangsa.

Dengan politik kebijakan berkaitan dengan kemajuan bangsa Indonesia dapat diambil dan diputuskan yang tidak terlepas dari peran perempuan di dalamnya, baik sebagai penetap kebijakan maupun sebagai pendukung.

Sebagaimana yang dikatakan oleh Nurul Arifin bahwa perempuan harus bisa memberikan pengaruh yang besar dalam kebijakan-kebijakan yang dibuat dan ditetapkan.

Seremoni peringatan hari Ibu ditutup oleh sambutan dari Ibu Yanti Airlangga yang mengatakan bahwa penghargaan yang diterimanya juga merupakan penghargaan kepada semua perempuan di Indonesia dan kita harus menjadi perempuan kuat yang selalu bersatu dalam mendukung pembangunan bangsa.

Baca juga: Tak Ada Nama Anies Baswedan, Golkar Usung Bupati Zaki Maju Pilgub DKI dan Airlangga untuk Pilpres

Peringatan Hari Ibu

Hari Ibu di Indonesia yang diperingati setiap tanggal 22 Desember memiliki sejarah yang cukup panjang dibalik penetapannya sebagai hari nasional.

Berawal dari penyelenggaraan Kongres Perempuan Indonesia pertama pada 22 Desember - 25 Desember 1928 yang dihadiri oleh organisasi-organisasi wanita yang telah berdiri pada saat itu.

Kongres perempuan pertama tersebut merupakan tonggak sejarah penting bagi perempuan-perempuan Indonesia.

Hari Ibu diperingati setiap 22 Desember. Peringatan Hari Ibu 2020 berikut link download loganya.
Hari Ibu diperingati setiap 22 Desember. Peringatan Hari Ibu 2020 berikut link download loganya. (Freepik via Tribunnews.com)

Dengan terselenggaranya kongres ini, kesadaran perempuan Indonesia dalam berorganisasi dan berpolitik makin terpicu terutama untuk memperjuangkan tuntutan-tuntutan perempuan Indonesia.

Tuntutannya yaitu persamaan hak dan derajat perempuan dan laki-laki terutama dalam masalah pendidikan, penentangan perkawinan terhadap anak-anak, dan kawin paksa.

Sebagai bentuk penghormatan kepada kaum perempuan Indonesia, pada penyelenggaraan Kongres Perempuan Indonesia ke III, Presiden Soekarno menetapkan Hari Ibu sebagai hari nasional setiap tanggal 22 Desember.

Tujuan ditetapkannya hari Ibu oleh Presiden Soekarno adalah untuk merayakan semangat perempuan Indonesia dalam meningkatkan kesadaran berbangsa dan bernegara serta memberikan penghargaan kepada perempuan-perempuan Indonesia yang telah mendidik generasi bangsa Indonesia.

Baca juga: Rayakan Hari Ibu, Lesti Kejora Beberkan Perlakuan Sang Mertua Kepadanya: Bu Dede Memang Orang Baru

Peran perempuan yang telah menjadi ibu tentunya tidak dapat dianggap remeh terutama dalam mendidik generasi muda Indonesia, oleh karena itu tentunya tidaklah berlebihan jika perempuan dianggap  sebagai tiang negara.

Jika perempuan di suatu negara baik maka baiklah negaranya, sebaliknya jika perempuan suatu negara rusak maka rusak pula negaranya.

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved