Dear Pemerintah, Pedagang Warteg Teriak Harga Sembako Meroket

"Pemerintah tidak punya sense of respon terhadap kebutuhan rakyatnya, tentunya dengan kondisi usaha yang banyak gulung tikar karena pandemi," ujarnya.

Penulis: Bima Putra | Editor: Acos aka Abdul Qodir
Tribunnews/Ferryal Immanuel
Ilustrasi warteg 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Bima Putra

TRIBUNJAKARTA.COM, JATINEGARA - Komunitas Warung Tegal Nusantara (Kowantara) mengeluhkan kenaikan harga sejumlah sembako pada momen libur Natal dan tahun baru 2022.

Ketua Kowantara Mukroni mengatakan kenaikan harga sembako seperti minyak goreng, telur ayam, dan cabai rawit untuk bahan baku menu karena memberatkan pengusaha Warteg.

"Prihatin dan keberatan karena pemerintah belum bisa mengantisipasi dengan kenaikan harga-harga komiditi," kata Mukroni saat dikonfirmasi di Jatinegara, Jakarta Timur, Rabu (29/12/2021).

Pasalnya kenaikan harga pada momen besar seperti libur Natal dan tahun baru kerap terjadi, tapi pemerintah dianggap justru tidak melakukan antisipasi atas kenaikan harga.

Baca juga: Tembus Rp 100 Ribu per Kg, Harga Cabai di Kota Bekasi Kian Meroket di Penghujung 2021

Baca juga: Harga Telur di Pasar Kawasan Jakarta Selatan Melonjak, Kini Tembus Rp 34 Ribu Per Kilogram

Hingga Selasa (28/12/2021) di Pasar Kramat Jati, Jakarta Timur harga telur ayam per kilogramnya mencapai Rp 30 ribu, sementara cabai rawit Rp 90 ribu per kilogram.

"Pemerintah tidak punya sense of respon terhadap kebutuhan rakyatnya, tentunya dengan kondisi usaha yang banyak gulung tikar karena pandemi," ujarnya.

Jika kenaikan harga sembako terus berlangsung, Mukroni menuturkan bukan tidak mungkin banyak pengusaha Warteg yang bangkrut karena tidak mampu memiliki modal usaha.

Baca juga: Kenaikan Harga Minyak, Cabai dan Telur Ternyata Tidak Wajar, IKAPPI Salahkan 2 Kementerian

Baca juga: Resolusi 2022, Tugas Pemimpin Daerah Diharapkan Lebih Fokus Benahi Fasilitas Publik

Para pengusaha Warteg kesulitan karena mereka tidak bisa menaikkan harga makan, alasannya hingga kini daya beli masyarakat belum sepenuhnya pilih dari dampak pandemi Covid-19.

Banyak masyarakat yang penghasilannya berkurang atau bahkan kehilangan pendapatan akibat pandemi Covid-19, sehingga bila harga naik Warteg justru kehilangan pelanggan.

"Untuk pendapat atau omzet belum pulih sepenuhnya karena akibat pandemi yang menyebabkan banyak PHK dan lainnya. Mereka (pengusaha Warteg) mengharap kenaikan komoditi temporal (sementara), sehingga bisa dimaklumi," tuturnya.

Sumber: Tribun Jakarta
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved