Sisi Lain Metropolitan
Mengejutkan, Ada Orang Terdidik Ikut Pesugihan Demi Pangkat dan Jabatan
Mengejutkan rupanya ada pula orang terdidik yang ikut pesugihan demi mendapatkan pangkat dan jabatan.
TRIBUNJAKARTA.COM, BOGOR - Mengejutkan rupanya ada pula orang terdidik yang ikut pesugihan demi mendapatkan pangkat dan jabatan.
Setidaknya temuan itu berdasarkan hasil penelitian skripsi yang dilakukan seorang mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Singaperbangsa Karawang bernama Aldi.
Mahasiswa yang biasa disapa Depenk ini memang membuat skripsi yang cukup antimainstream.
Berawal dari kegiatan hunting bersama komunitasnya di wilayah pantai utara Jawa, tepatnya di Pantai Slamaran, Pekalongan, Jawa Tengah, Aldi tertarik menjadikan tempat itu sebagai bahan penelitiannya.
Pasalnya, dia menyebut ada praktik pesugihan di Pantai Slamaran.
Baca juga: Yakini Komunikasi Spiritual, Mahasiswa Ini Berani Bikin Skripsi tentang Pesugihan di Pantura Jawa
Pantai ini terletak di kawasan Pelabuhan Perikanan Nusantara Pekalongan.
Pantai Slamaran tidak terlalu luas, hanya sekitar 3,4 hektare. Saat akhir pekan dan hari libur nasional, Pantai Slamaran selalu ramai dikunjungi oleh wisatawan.
Sosok makhluk gaib Pantai Slamaran yang dipercaya para pelaku ritual pesugihan dapat mengabulkan keinginan mereka adalah Dewi Lanjar.
Warga setempat menyebut Dewi Lanjar sebagai sosok cantik jelita. Ia diangkat menjati ratu di pantai utara oleh Gusti Kanjeng Ratu Kencana Sari atau lebih dikenal sebagai Gusti Kanjeng Ratu Kidul.
Dewi Lanjar merupakan satu dari 28 abdi kinasih Gusti Kanjeng Ratu Kidul yang berkuasa di pantai selatan Jawa yang berhadapan langsung dengan Samudera Hindia.
Dari cerita yang beredar, Dewi Lanjar secara khusus diperintah oleh Gusti Kanjeng Ratu Kidul untuk menjaga ekosistem kawasan pantai utara Jawa dari berbagai kerusakan.
Adapun komunitas yang membawa Aldi ke Pantai Slayar ialah Ghost Photography Community yang suka hunting memfoto makhluk tak kasat mata.
Aldi tercatat sebagai Ketua Region Ghost Photography Community Karawang.
Persentuhan Aldi dengan komunitas ini tak lepas dari Mickey Oxcygentri, dosen fotografi di FISIP Universitas Singaperbangsa Karawang.
Baca juga: Antimainstream, Mahasiswa Ini Angkat Skripsi Ritual Pesugihan di Pantai Utara Jawa
Mickey yang tercatat sebagai warga Kota Depok ini adalah founder GPC.
"Komunikasi itu kan luas. Selama ini komunikasi memang identik dengan broadcast, media, atau jurnalistik," ungkap Aldi kepada TribunJakarta.com perihal alasannya meneliti soal praktik pesugihan, Jumat (11/2/2022).
Skripsi Aldi berjudul, 'Menguak Pengalaman Komunikasi Kegiatan Ritual Pesugihan di Pantai Utara Pekalongan.'
Aldi meyakinkan, kasus pesugihan yang ditelitinya itu masih berkaitan dengan komunikasi.
Dalam hal skripsinya, Aldi menyebut dirinya menggunakan teori tentang komunikasi spiritual.
Namun dia awalnya sempat diragukan oleh sang dosen penguji perihal objek penelitiannya yang berkaitan dengan hal mistik.
"Kamu yakin mau meneliti tentang pesugihan?" begitu tanya dosen penguji saat tahu Aldi menyodorkan judul skripsi di atas.
Keraguan dosen penguji berhasil dijawab Aldi yang menjelaskan panjang lebar alasan penelitiannya sangat berbau mistis.
Tak hanya itu, untuk meyakinkan dosen penguji, Aldi menjelaskan sejarah bagaimana mengetahui praktik pesugihan di Pantai Slamaran, Pekalongan.
"Akhirnya, setelah saya presentasikan diterima sama dosen pengujinya," sambung Aldi.
Baca juga: Diduga Korban Pesugihan Orangtuanya, Makam Anak Dibongkar Polisi: Temukan Banya Tanda Kekerasan
Selama menulis skripsi, Aldi mengakui kesulitan untuk menyusun latar belakang masalah. Karena minimnya referensi tentang fenomena pesugihan.
Kendati ini menjadi bantu sandungan, Aldi semakin bersemangat untuk menuntaskan skripsinya yang mungkin bagian kebanyakan orang muskil.
Ia berseloroh, bisa jadi orang pertama yang membahas mengenai pesugihan di Pantai Slamaran, Pekalongan, untuk bahan skripsinya.
"Bahkan, mungkin belum ada yang membahas tentang pesugihan ini," kata Aldi terkekeh.
Aldi menuturkan, ada tiga rumusan masalah yang dicarinya selama meneliti praktik pesugihan di Pantai Slamaran.
"Saya itu ingin tahu apa pengalaman komunikasi dari ritual pesugihan itu?"
"Kemudian apa maknanya bagi si pelaku dan apa motifnya sampai mereka itu melakukan pesugihan," tutur pria berambut gondrong ini.
Selama melakukan penelitian ini, sumber informasi Aldi banyak dapat dari seorang informan.
Informan ini bertugas sebagai mediator untuk orang yang ingin melakukan pesugihan dengan sang kuncen di Pantai Slamaran.
Seiring berjalannya penelitan tersebut, Aldi mendapatkan kisah langsung dari pelaku pesugihan.
Baca juga: Temuan Polisi Saat Makam Korban Dugaan Pesugihan Dibongkar, Ibu Korban dan Sang Kakek Jadi Tersangka
Sejak meneliti dari Oktober 2021, Aldi belum pernah bertemu langsung dengan sang kuncen di lokasi pesugihan.
Kuncen inilah yang bisa menjembatani keinginan pelaku ritual pesugihan dengan jin atau makhluk yang dipercaya bisa mengabulkan keinginannya.
"Di penelitian ini saya pakai teori fenomenologi Alfred Schutz atas fenomena si informan saya yang merupakan mediator pelaku pesugihan ke kuncennya," tutur dia.
Sulitnya Ketemu Kuncen
Aldi menjelaskan kenapa sampai saat ini tak bisa bertemu kuncen Pantai Slamaran di lokasi pesugihan yang menjadi objek penelitiannya.
Sebab, kata dia, tak segampang itu seseorang bisa menemui sang kuncen yang sosoknya tak boleh disebarkan begitu saja.
Kata Aldi, para pelaku pesugihan pun harus melakukan perjuangan ekstra demi bisa bertemu sang kuncen di pantai utara Pekalongan itu.
Sebelum bisa menemui kuncen Pantai Salamaran, mereka harus mendapat restu dari sejumlah kuncen di daerah lain yang masuk daftar list.
Menurut Aldi, ada semacam birokrasi yang tak kalah panjang untuk menemui kuncen utama Pantai Slamaran.
"Sebelum bertemu kuncen Pantai Slamaran, pelaku harus menemui dan mendapat restu dari kuncen di daerah lain yang direkomendasikan," kata dia.
Baca juga: Kecam Aksi Keji Korbankan Anak untuk Pesugihan di Gowa, Komnas PA: Perbuatan Biadab
Pelakunya orang terdidik
Dipaparkan Aldi, yang menarik dari praktik pesugihan di pantai utara Pekalongan itu lantaran sang pelaku yang melakukan hal itu tak hanya berasal dari kalangan menengah ke bawah.
Tak sedikit orang berpendidikan dan dari kalangan menengah ke atas yang juga mengikuti pesugihan di sana.
"Biasanya kan orang yang ikut pesugihan itu orang miskin yang ingin kaya.
Tapi di sana itu ada juga diduga dari kalangan pejabat yang ikut untuk tujuan pangkat dan jabatan," tutur Aldi.
Selain itu, tumbal yang diminta juga ada yang nyaris tak masuk akal.
Yakni ada yang diminta membangun masjid hingga pesantren sebagai tumbal pesugihan.
"Nah itu juga yang saya dapat informasinya dari informan saya," kata Aldi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jakarta/foto/bank/originals/ilustrasi-dukun-atau-menyan_20180205_085758.jpg)