Pedagang Daging Berencana Mogok, Imbauan IKAPPI: Beberapa Pedagang Saja Jangan Semua

Sekretaris Jenderal DPP Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Sekjen DPP IKAPPI), Reynaldi Sarijowan  imbau tak semua pedagang daging lakukan mogok berjual

TRIBUNJAKARTA.COM/BIMA PUTRA
Lapak pedagang daging sapi di Pasar Kramat Jati, Jakarta Timur, Jumat (11/6/2021). 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Nur Indah Farrah Audina

TRIBUNJAKARTA.COM, GAMBIR - Sekretaris Jenderal DPP Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Sekjen DPP IKAPPI), Reynaldi Sarijowan  imbau tak semua pedagang daging lakukan mogok berjualan.

Alasannya, lantaran masih ada pihak ketiga seperti pedagang bakso yang menggunakan daging sebagai bahan baku utama.

Bila mereka tak berjualan, kata Reynaldi, maka pihak ketiga ini bakal merasa dirugikan.

"Memang kami mendapati sejumlah laporan berupa pedagang daging akan merencanakan mogok makan namun kami menilai sesungguhnya ini hal yang harus diperhatikan."

"Karena ada pihak ke-3 pihak ke-3 nya yang sangat dirugikan karena kaya penjual bakso, warek dan sebaginya yang memang memproduksi atau menjual daging tentu akan mengalami rugi," katanya kepada awak media, Jumat (25/2/2022).

Baca juga: Mogok Belum Mulai, Pedagang Daging Sapi di Pasar Kramat Jati Sudah Berhenti Jualan, Apa Penyebabnya?

Ia pun mengkhawatirkan aksi mogok ini bakal berdampak  pada skala yang lebih besar.

Apalagi, aksi mogok berjualan ini direncanakan bakal berlangsung selama lima hari, mulai Senin (28/2/2021) sampai Jumat (4/3/2022)

"Ketika beberapa pedagang mengalami mogok dagang daging untuk itu kami mengimbau kepada seluruh pedagang daging, kalau memang mau mogok aksi dagang daging tentu beberapa pedagang saja jangan semua," lanjutnya.

Oleh sebab itu, pihaknya bakal melakukan komunikasi dengan pemerintah untuk segera melakukan intervensi.menyoal melambungnya harga daging.

"Dengan cara apa? dengan cara memastikan stok daging yang ada, karena konsumsi daging dalam negri kita cukup tinggi, untuk itu seharusnya permintaan yang saat ini tidak terlalu tinggi seharusnya dapat mampu ditekan. Kecuali nanti menjelang hari raya lebaran idul fitri tentu permintaan akan tinggi dan harga akan melonjak maka jauh sebelum itu pemerintah harus melakukan intervensi," tandasnya

Sumber: Tribun Jakarta
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved