Lembaga Riset IndoNarator Diluncurkan, Sejarawan Harap Bisa Mendidik Rakyat

Hadirnya IndoNarator yang bergerak pada bidang riset kebijakan dan kajian publik diharapkan bisa memberikan edukasi pada masyarakat luas.

Penulis: Dwi Putra Kesuma | Editor: Wahyu Septiana
ISTIMEWA
Peluncuran Lembaga Riset IndoNarator - Hadirnya IndoNarator yang bergerak pada bidang riset kebijakan dan kajian publik diharapkan bisa memberikan edukasi pada masyarakat luas. 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Dwi Putra Kesuma

TRIBUNJAKARTA.COM, PANCORAN MAS – Hadirnya IndoNarator yang bergerak pada bidang riset kebijakan dan kajian publik diharapkan bisa memberikan edukasi pada masyarakat luas terkait dunia perpolitikan.

Hal tersebut disampaikan oleh sejarawan Anhar Gonggong.

Menurutnya, apa yang dibawa IndoNarator diharapkan bisa memecahkan persoalan ‘pudar’nya peranan organisasi politik, seperti partai, dalam menjalankan fungsi edukasi

“Pertanyaan saya sekarang adakah partai mendidik rakyat. Kan itu persoalannya. Hal ini yang harus dipikirkan. Kalau bisa anda punya organisasi harus mendidik rakyat. Nah sekarang, pesan saya, IndoNarator tolong didik rakyat sambil tetap mempertahankan integritas anda,” jelas Anhar dalam siaran pers yang diterima, Kamis (24/3/2022).

Lebih lanjut, Anhar menuturkan fungsi edukasi ini dapat memperbaiki mental ditengah kecenderungan perilaku korup yang dilakukan oleh Sebagian pejabat negara.

Baca juga: 3 Penelitian Lintas Bidang Manfaatkan Platform Riset BRIN di Kebun Raya Bogor

“Apapun yang kalian katakan, kalau mental tidak berubah dalam pengertian baik, apa yang anda harapkan? Keruntuhan yang pasti akan terjadi,” katanya.

Senada dengan Anhar, ekonom Rizal Ramli, menegaskan bahwa saat ini kita terperangkap dalam narasi-narasi yang bersifat retorik, emosional, dan romantisme belaka.

Peluncuran Lembaga Riset IndoNarator
Peluncuran Lembaga Riset IndoNarator (ISTIMEWA)

Ia menilai perkara ini malah membuat Indonesia sulit tumbuh menjadi bangsa besar. 

“Saya sependapat dengan pak Anhar Gonggong, bahwa kita ini karakter tidak punya. Selain kecerdasan, profesionalisme, karakter juga penting,” ungkapnya.

Ada tiga persoalan yang disebut Rizal menjadi penyebab generasi muda di Indonesia sulit berkembang, yakni korupsi, nepotisme dan anti-pluralisme.

“Beban ini menyeret anak Indonesia turun ke bawah. Jadi tugas kita, kita harus potong ketiga beban itu. Karena tidak ada negara maju jika masih ada korupsi, tidak ada negara maju jika masih ada nepotisme.

Baca juga: Butuh Bantuan Dana Riset? Yuk Coba Daftar Program Talenta Inovasi Indonesia 2021, Cek Syaratnya

Perbedaan harus kita hargai, yang anti perbedaan tidak cocok karena kita negara Pancasila”, tekannya.

Terakhir, Direktur Eksekutif IndoNarator, Sekar Hapsari, menuturkan masih banyak hal yang harus dipelajari oleh generasi muda dan diterapkan ke depannya. 

Baginya ini bukan sekadar urusan kontestasi 2024, melainkan untuk kepentingan jangka panjang generasi muda Indonesia. 

“Ada satu hal yang sifatnya kasuistik dalam melihat bingkai kesatuan Indonesia saat ini. Dan itulah yang membuat kami merajut pulang bingkai tersebut dan membuat satu narasi dan narasi itu semoga kedepannya bermanfaat,” pungkas Sekar.

Sumber: Tribun Jakarta
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved