Awal Ramadan, Pusat Takjil di KBT Duren Sawit Masih Sepi Pembeli

Rasman, satu pedagang nasi bakar di KBT mengatakan hingga hari kedua bulan Ramadan 1443 Hijriah pada Senin (4/4/2022) jumlah pembeli masih sepi.

Penulis: Bima Putra | Editor: Jaisy Rahman Tohir
Bima Putra/TribunJakarta.com
Tampak pusat jajanan takjil di jalan inspeksi Kanal Banjir Timur (KBT), Kecamatan Duren Sawit, Jakarta Timur, Senin (4/4/2022). 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Bima Putra

TRIBUNJAKARTA.COM, DUREN SAWIT - Pusat jajanan takjil di jalan inspeksi Kanal Banjir Timur (KBT), Kecamatan Duren Sawit, Jakarta Timur pada awal bulan Ramadan 1443 Hijriah masih sepi pembeli.

Rasman, satu pedagang nasi bakar di KBT mengatakan hingga hari kedua bulan Ramadan 1443 Hijriah pada Senin (4/4/2022) jumlah pembeli masih sepi.

"Masih sepi. Enggak tahu karena warga masih pada masak untuk buka di rumah atau bagaimana. Tapi sekarang termasuk sepi," kata Rasman di Jakarta Timur, Senin (4/4/2022).

Menurutnya semenjak pandemi Covid-19 melanda tahun 2020 jumlah pembeli di jajanan takjil di jalan inspeksi KBT menurun dibanding tahun sebelumnya.

Pun pada bulan Ramadan tahun ini pemerintah sudah melonggarkan kebijakan penerapan protokol kesehatan pencegahan Covid-19.

Baca juga: 2 Wanita Berparas Cantik Ini Tawarkan Takjil Kekinian Hotang & Corndog di Kelapa Gading

"Dulu waktu awal (pandemi) Covid-19 kita dagang enggak boleh. Sekarang boleh dagang sama Satpol PP tapi jumlah pembeli sepi, beda sama biasanya," ujarnya.

Zaur, pedagang aneka gorengan di KBT juga menuturkan jumlah pembeli takjil pada bulan Ramadan tahun ini menurun bila dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Pasalnya sebelum pandemi Covid-19 melanda sepanjang jalan inspeksi KBT selalu dipadati warga yang ingin ngabuburit sekaligus membeli takjil.

"Biasanya kalau dulu sore di sini pasti macet, banyak yang ngabuburit sambil duduk-duduk, olahraga lari. Tapi ini sepi, padahal di jalanan macet," tutur Zaur.

Sementara, Kasatpol PP Jakarta Timur Budhy Novian menuturkan pada bulan Ramadan ini pihaknya tidak menempatkan anggota secara khusus di pusat takjil.

Namun pihaknya menempatkan anggota di tempat publik yang rawan terjadi kerumunan untuk memastikan warga mematuhi protokol kesehatan.

"Secara khusus penempatan di lokasi pusat takjil tidak ada, tetapi kategorinya potensial kerumunan di ruang publik, artinya tidak semua potensial kerumunan disebabkan oleh takjil," kata Budhy.

Sumber: Tribun Jakarta
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved