Kisah Kundil saat Persiapan Pildun Amputasi: Nyebrang Rel Kereta Ilegal hingga Tunggu Uang Saku Cair

Perjuangan Timnas Sepakbola Amputasi menembus Piala Dunia 2022 di Turki dilalui dengan jalur terjal.

Satrio Sarwo Trengginas
Pesepak bola amputasi, Warnadi alias Kundil saat ditemui di mess di kawasan Pejaten Timur, Pasar Minggu, Jakarta Selatan pada Rabu (6/4/2022). 

Nyebrang rel ilegal

Meski tak mendapatkan kesetaraan fasilitas lantaran belum mendapatkan perhatian pemerintah kala itu, Kundil dan para pemain lain sempat mendapatkan dukungan dari sejumlah pihak.

Salah satunya dari anggota DPR yang memfasilitasi mereka latihan di lapangan Kompleks DPR dan bus menuju ke sana.

Namun, untuk menikmati fasilitas tersebut pun butuh perjuangan.

Pemain timnas sepakbola amputasi, Warnadi alias Kundil tengah berlatih mengoper bola di mess di kawasan Pejaten Timur, Pasar Minggu, Jakarta Selatan pada Rabu (6/4/2022).
Pemain timnas sepakbola amputasi, Warnadi alias Kundil tengah berlatih mengoper bola di mess di kawasan Pejaten Timur, Pasar Minggu, Jakarta Selatan pada Rabu (6/4/2022). (Satrio Sarwo Trengginas)

Mereka harus berjalan kaki 1 km lebih menuju jalan raya lantaran akses masuk menuju mess sempit hanya serupa labirin.

Tak ada pilihan selain berjalan kaki dan menyebrangi rel kereta api ilegal di Pasar Minggu.

Baca juga: Garuda INAF Lolos Piala Dunia, Terungkap Ada Peran Besar Persaj: Klub Sepak Bola Amputasi di Jakarta

Kundil mengaku ketar ketir juga setiap latihan harus melewati rel kereta api ilegal itu dengan keadaan tubuhnya yang disabilitas.

"Ya syok juga harus nyebrang rel kayak gitu kan. Motong jalur rel agar bisa naik bus. Butuh tenaga ekstra harus jalan kaki juga. Setiap mau nyebrang, 'Ayok cepet-cepet, kayak kancil saja'," ceritanya.

Ia berharap pemerintah bisa lebih memerhatikan kondisi persepakbolaan amputasi di Indonesia. Khususnya dukungan fasilitas serta finansial yang baik.

Sebab, mereka terbukti mampu mengharumkan nama Indonesia di kancah Internasional lewat sepakbola.

Selain itu, semoga uang saku pemain saat pentas di kualifikasi Dhaka, Bangladesh segera cair. 

Kisah bertahan dari 'Nyablon'

Hidup terlahir dengan kondisi cacat bukan sebuah akhir bagi Bang Kundil.

Harapan berdiri di atas kaki sendiri meski hanya satu kaki yang membuat dirinya tetap hidup.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Jakarta
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved