ASDP Hapus Penjualan Tiket di Pelabuhan, Bambang Haryo Sebut Kebijakannya Bakal Persulit Masyarakat

Bambang Haryo Soekartono turut memberikan komentar terkait rencana PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) yang tidak ada lagi penjualan tiket on the spot.

Editor: Wahyu Septiana
ISTIMEWA
Bambang Haryo Soekartono turut memberikan komentar terkait rencana PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) yang tidak ada lagi penjualan tiket on the spot. 

TRIBUNJAKARTA.COM, JAKARTA – Tokoh transportasi nasional, Bambang Haryo Soekartono turut memberikan komentar terkait rencana PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) yang tidak ada lagi penjualan tiket on the spot di pelabuhan.

Bambang Haryo Soekartono menilai langkah PT ASDP itu salah kaprah dan justru akan mempersulit masyarakat menggunakan angkutan penyeberangan.

Sebelumnya, PT ASDP Indonesia Ferry ingin mengadaptasi sistem ticketing bandara dan stasiun kereta api serta menerapkan pengisian data diri penumpang saat memesan tiket.

“Harusnya PT ASDP tahu fungsi angkutan penyeberangan adalah kepanjangan jalan raya seperti halnya jembatan atau jalan tol, yang setiap detik, menit, dan jam penumpang dan kendaraan bisa melakukan perjalanan menyeberang 24 jam non stop,” kata Bambang Haryo Soekartono, dalam keterangan persnya, Kamis (12/5/2022).

Bambang Haryo mengatakan, angkutan penyeberangan atau kapal feri berbeda dengan pesawat terbang, kereta api, atau kapal laut jarak jauh yang tidak selalu tersedia setiap saat.

Sehingga penyeberangan seharusnya melayani penjualan tiket dengan kemudahan dan cepat.

Baca juga: Pelabuhan Merak Macet Total Saat Mudik Lebaran, Bambang Haryo: ASDP Gagal Antisipasi Lonjakan

Bila diberlakukan tiket online, penyeberangan bisa menerapkan seperti halnya di jalan tol menggunakan e-Toll, yang bisa didapat dengan mudah tanpa aplikasi.

Namun untuk mendapatkan tiket online ASDP, masyarakat harus mengunduh dulu aplikasi di smartphone untuk setiap pembelian tiket sehingga mempersulit masyarakat yang saat ini masih banyak yang tidak melek terhadap teknologi.

Bambang Haryo mempertanyakan urgensi pembangunan Bendungan Bener dengan menggusur wilayah Desa Wadas yang subur dan menjadi sumber penghidupan bagi warganya.
Bambang Haryo  (ISTIMEWA)

“Untuk memesan tiket online dari smartphone mereka akan menemui kesulitan, sebab sekitar 40 persen penduduk Indonesia berpendidikan SMP kebawah dan 20 persen belum mengenyam pendidikan," kata dia.

"Demikian juga penggguna penyeberangan, sekitar 70 persen adalah masyarakat menengah ke bawah sehingga dipastikan akan kesulitan mengakses untuk mendapatkan tiket online."

Halaman
123
Sumber: Tribun Jakarta
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved