Sisi Lain Metropolitan
Melihat Kepingan Terakhir Tembok Panjang Kota Batavia dan Gudang VOC di Utara Jakarta
Salah satu tembok panjang Batavia yang dibangun abad ke-17 yang tersisa, dapat dilihat di depan Museum Kebaharian Jakarta
Penulis: Satrio Sarwo Trengginas | Editor: Acos Abdul Qodir
Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Satrio Sarwo Trengginas
TRIBUNJAKARTA.COM, PENJARINGAN - Kongsi dagang Verenigde Oost-Indische Compagnie (VOC) sempat membangun tembok panjang yang mengelilingi kota Batavia.
Kini tembok kota itu sebagian besar sudah runtuh.
Salah satu tembok panjang Batavia yang dibangun abad ke-17 yang tersisa, dapat dilihat di depan Museum Kebaharian Jakarta, Jalan Pasar Ikan, Penjaringan, Jakarta Utara.
Tembok Kota Batavia yang berada di depan museum dulunya digunakan juga untuk mengawasi area luar di luar tembok.
Tembok ini menyambung dengan kubu pertahanan atau bastion Culemborg yang berada di Kompleks Menara Syahbandar.
Baca juga: Mirip Menara Pisa, Menara Syahbandar di Penjaringan Miring dan Suka Bergoyang
Di tembok Kota Batavia terdapat sebuah bangunan berbentuk tabung yang berfungsi untuk memantau adanya penyusup atau ancaman dari luar.
Sebab, di dalam tembok itu terdapat sebuah gudang untuk menyimpan hasil rempah-rempah jarahan kompeni.
Gudang di tepi barat yang dulunya bernama Westzijdsche Pakhuizen kini menjadi Museum Kebaharian Jakarta.
"Museum Bahari ini dulunya gudang rempah VOC yang dibangun tahun 1600-an. Dulu bangunannya masih kayu, kemudian di tahun 1700 an berubah jadi tembok kokoh," kata pemandu wisata di Museum Bahari, Firman Faturohman saat acara Jakarta Heritage Trails bersama Komunitas Historia Indonesia dan Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatf DKI Jakarta pada Sabtu (4/6/2022).
Baca juga: Gendong Tas Besar dan Sepeda Oranye, Terkuak Pekerjaan Arzum Balli Si Bule Austria Istri PPSU
Dalam buku Tempat-tempat Bersejarah karya Adolf Heuken, tertulis bahwa gudang barat VOC ini dibangun pada tahun 1652.
Di dalam gudang ini, VOC menimbun berbagai jenis hasil alam seperti cengkeh, pala, kopi, teh, katun dan sutera.
"Monopoli perdagangan rempah-rempah ini menjadikan VOC dan para sultan di Maluku kaya raya, tetapi penduduk semakin miskin," tulis Heuken.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jakarta/foto/bank/originals/museum-kebaharian-jakarta-di-jalan-pasar-ikan-penjaringan-n.jpg)