Pilpres 2024

Surya Paloh dan SBY Munculkan Wacana Poros Baru Pilpres: Rakernas Jadi Penentu, AHY Tak Harus Capres

Perpolitik Indonesia jelang Pilpres 2024 semakin dinamis. Ketua Umum (Ketum) Partai mulai lincah bergerak ke sana- kemari.

Tribun Jakarta
Kolase foto Susilo bambang Yudhoyono (SBY) dan Surya Paloh. 

TRIBUNJAKARTA.COM - Perpolitik Indonesia jelang Pilpres 2024 semakin dinamis. Ketua Umum (Ketum) Partai mulai lincah bergerak ke sana- kemari.

Poros-poros koalisi pun mulai terbentuk.

Golkar, PAN dan PPP sudah mengawali dengan membentuk Koalisi Indonesia Bersatu (KIB).

Terakhir, Ketum Golkar Airlangga Hartarto, Ketum PAN Zulkifli Hasan dan Ketum PPP Suharso Monoarfa semakin mengeratkan hubungan dengan menggelar silaturahmi nasional (Silatnas).

Di sisi lain, NasDem yang akan menggelar Rapat Kerja Nasional (Rakernas) pada (15-176/2022) tidak berhenti menjajaki hubungan dengan partai lain.

Baca juga: Sinyal 2024, Surya Paloh Sebut Nama Ganjar, Anies sampai Prabowo: Bisa Saja, Enggak Ada Masalah

Pada Rakernas itu, NasDem akan menentukan sosok yang akan diusung menjadi calon presiden (capres) pada Pilpres 2024 mendatang.

Pada Minggu (5/6/2022), Surya Paloh bertemu dengan Ketua Majelis Tinggi partai Demokrat, Susilo bambang Yudhoyono (SBY) dan anaknya, Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).

Direktur Eksekutif Trias Politika Strategis, Agus Baskoro, membaca akan adanya poros baru setelah KIB, yang dimotori NasDem.

"Di sisi Nasdem, ada beberapa nama Capres yang memang sempat mengemuka mulai Anies Baswedan, Prabowo Subiato, Ganjar Pranowo, AndikaPerkasa, Erick Thohir dan Rahmat Gobel. Keputusan akhirnya untuk Capres akan dieksekusi pada Rakernas pekan depan. Di titik inilah Realitas di internal Nasdem mendukung bagi Demokrat yang tidak menempatkan syarat AHY harus Capres. Keleluasaan ini penting, agar pekerjaan rumah untuk menemukan 1 calonmitra koalisi baru menjadi mudah," kata Agus dalam keterangan resminya, Senin (6/6/2022).

"Dalam dinamika koalisi semacam ini, secara obyektif menghadirkan realitas politik temporer, pertama, kemungkinan poros kedua yang diinisasi oleh Nasdem, karena didukung keluwesan partai ini yang terbuka untuk berkomunikasi kepadapartai manapun," lanjut paparnya.

SBY saat konferensi pers menanggapi KLB Partai Demokrat, Jumat (5/3/2021).
SBY saat konferensi pers menanggapi KLB Partai Demokrat, Jumat (5/3/2021). (TANGKAPAN LAYAR Kompas.TV)

Agus juga melihat kemunculan poros baru ala NasDem bisa memperbesar kemungkinan Pilpres 2024 hanya diisi dua psanangan calon.

Hal ini penting karena NasDem kerap bersuara tentang menghindari keterbelahan masyarakat dengan munculnya head to head alias dua pasangan.

"tanggung jawab moral bagi partai ini secara institusi semakin besar dan dinanti ujungnya secara konkrit oleh publik setelah Konvensi Nasdem tak jadi terlaksana. Jangan sampai ini hanya sebatas janji retoris lagi."

"Di titik inilah, poros baruyangdigalang Nasdem bisa muncul atas nama kepentingan politik dan aspirasi publikuntuk menghindarkan pertarungan head to head," ujarnya.

 

Sumber: Tribun Jabar
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved