Bikin Merinding, Ada Sesi Workshop dan Analisa Foto Hantu Acara Komunitas Ini Meski Digelar di Mal
Bertajuk 'Ghost in The Lens', acara ini membuat bulu kuduk pengunjungnya merinding.
Penulis: Pebby Ade Liana | Editor: Acos Abdul Qodir
Laporan wartawan TribunJakarta.com, Pebby Adhe Liana
TRIBUNJAKARTA.COM, JAKARTA - Komunitas Fotografi Hantu Ghost Photography Community (GPC) baru-baru ini menggelar event berbau horor di salah satu mal di Jakarta.
Bertajuk 'Ghost in The Lens', acara ini membuat bulu kuduk pengunjungnya merinding.
Deretan rangkaian acara digelar selama dua hari berturut-turut pada 28-29 Mei lalu di Mal FX Sudirman dengan membahas seputar makhluk tak kasat mata, mulai Ghost Stories, Supranatural Experience, Workshop sampai talkshow.
Pada hari terakhir, GPC turut menampilkan sesi Workshop Fotografi Hantu oleh Founder GPC yang juga sebagai Dosen Fotografi di Universitas Singaperbangsa Karawang, Mickey Oxcygentri.
Adapula sesi talkshow bersama Komunitas Historia Indonesia, Mata Astral, Analisa Foto Hantu Magic Show dari Ketua Regional GPC Aldi Depenk, yang bergenre horror berdasarkan teori dan konsep GPC.
Cerita Anak Indigo Punya Tiga Teman Tak Kasat Mata hingga Diajak Kenalan Kuntilanak
Bagi anak Indigo tentu tak aneh bila mereka memiliki teman khayalan yang tak bisa dilihat secara kasat mata.
Seperti yang dialami Gilang Ramadhan dari komunitas Jurnal Indigo.
Baca juga: Ghost Photography Community: Kala Pemburu Foto Hantu Gunakan Ilmiah Tanpa Klenik
Saat menjadi bintang tamu di program Ghost In The Lens dengan berkolaborasi bersama Tribun Jakarta dan Tribun Bogor, Gilang menceritakan tiga teman tak kasat mata alias teman khayalannya.
Kata Gilang, dia memiliki kemampuan indigo karena memang sudah turun menurun dari kakeknya.
Sempat ditutup (mata batin) sehingga gabisa ngeliat sama almarhum papah.
Tapi pas papah meninggal jadi bisa melihat lagi," kata Gilang pada 28 Mei 2022 lalu.
Meski awalnya syok karena sering melihat makhluk tak kasat mata, Gilang akhirnya terbiasa.
Dia bahkan memiliki tiga teman khayalan yang setia menemaninya.
Kata Gilang, semua berawal saat dirinya masih duduk di kursi SMK.
Saat itu, terjadi kesurupan massal di sekolahnya.
Baca juga: Bentuk Komunitas Pembatik Cilik, YPA-MDR Tingkatkan Kecakapan Hidup Siswa-siswi Binaan
Gilang malah berkenalan dengan seorang bocah tak kasat mata yang disebutnya berasal dari era kolonial.
"Pertama itu pas masih SMK. Kemudian seiring berjalannya waktu ada dua lagi teman khayalan saya. Satu cowok dan dua cewek," tutur Gilang.
Disampaikan Gilang, ketiga teman tak kasat matanya itu berasal dari luar negeri.
"Semua bule, yang cowok itu yang paling nakal usianya 9 tahun.
Dia itu katanya meninggalnya ketembak. Terus yang dua lainnya itu cewek usia 8 tahun dan ada yang lebih dewasa," paparnya.
"Jadi memang semua bule dan hidup pada masa penjajahan," sambungnya
Kendati tiga teman khayalannya saat ini berasal dari luar negeri, Gilang menuturkan dirinya juga pernah berteman dengan hantu lokal, dalam hal ini kuntilanak.
Uniknya, kata Gilang, kuntilanak tersebut menggunakan bahasa Sunda saat berkenalan dan berkomunikasi dengannya.
"Waktu itu Gilang pernah temenan sama kuntilanak dan asik banget diajak cerita," tutur Gilang.
Baca juga: Warga Sepuh Mengungkap Kisah yang Bikin Merinding di Gudang Timur VOC: Lihat Sosok Ini
Dijelaskan Gilang, awal perkenalannya dengan sang kuntilanak berbahasa Sunda itu juga unik.
Kuntilanak Sunda itu menempat rumah kosong yang berada di depan rumah Gilang.
"Nah tiap keluar malam naik motor, kuntilanak ini nyautin "Euy bada kamana". Dia pakai bahasa Sunda," kata Gilang.
Saat itu, Gilang sudah tahu bahwa yang mengajaknya bicara itu adalah makhluk tak kasat mata.
"Pernah juga saya pulang kerja lagi asik main hape tiba-tiba
dari tembok dia muncul, bilang mau cerita," kata dia.
Namun, Gilang mengatakan saat ini dirinya sudah tak berkomunikasi lagi dengan kuntilanak berbahasa Sunda itu.
"Dia sekarang sudah hilang kebetulan ada pengajian di depan rumah mungkin terkena energi positifnya dan dia akhirnya nyeberang dan sekarang udah ga pernah ketemu lagi," kata dia.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jakarta/foto/bank/originals/komunitas-fotografi-hantumenggelar-event-berbau-horor-di-mal-fx-sudirman.jpg)