Khilafatul Muslimin Ingin Umat Islam Memiliki Pemimpin, Abu Salma : Enggak Mungkin Pak Jokowi
Pemimpin tertinggi organisasi Khilafatul Muslimin, Abdul Qadir Hasan Baraja ditangkap kepolisian setelah heboh konvoi seruan sistem khilafah.
Penulis: Yusuf Bachtiar | Editor: Jaisy Rahman Tohir
Laporan wartawan TribunJakarta.com, Yusuf Bachtiar
TRIBUNJAKARTA.COM, BEKASI SELATAN - Pemimpin tertinggi organisasi Khilafatul Muslimin, Abdul Qadir Hasan Baraja ditangkap kepolisian setelah heboh konvoi seruan sistem khilafah di beberapa daerah.
Amir Khilafatul Muslimin Bekasi Raya Abu Salma mengatakan, Abdul Qadir Hasan Baraja merupakan khalifah atau pemimpin umat bagi para anggota dan simpatisan Khilafatul Muslimin.
Tujuan organisasinya bukan untuk merebut kekuasaan, merubah sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) seperti yang dituduhkan.
"Banyak umat secara umum tidak paham tentang khilafah itu sendiri, bahkan framing yang ada, khilafah ini dipaksa untuk bernegara, khilafah ini punya kekuasaan, khilafah ini harus punya hukum," kata Abu Salma.
Khilafah sebagai ideologi, merupakan ajaran yang datangnya dari islam. Secara sederhana, umat Islam perlu memiliki pemimpin.
Baca juga: Khilafatul Muslimin Bekasi Raya Berdiri Sejak Tahun 2000-an, Anggota Diklaim Capai Belasan Ribu
Dia mencontohkan sebagaimana zaman Nabi Muhammad dan sahabat, terdapat tokoh yang dinobatkan sebagai pemimpin umat dari masa ke masa.
"Jadi harapannya seluruh umat islam bersatu di bawah naungan khilafah dipimpin oleh satu pemimpin yang namanya khalifah," ujarnya.
Pemimpin di sini bukan seorang presiden, perdana menteri atau semacamnya.
Pemimpin yang disebut khalifah lebih kepada keumatan.
"Sekarang kalau ditanya siapa pemimpin umat islam? Gak mungkin Pak Jokowi karena beliau pemimpin negara wajar kalau kita harus patuh dan taat kepada negara," tegas dia.
Kegiatan Khilafatul Muslimin selalu mengajarkan anggota maupun simpatisannya agar taat dan patuh kepada negara.
"Sekarang kalau tidak bertentangan (dengan islam), kita taat kepada NKRI itu wajib, karena kita hidup di dalam negara," tegas dia.