Pentingnya Keterampilan Kegawatdaruratan Jantung dan Pembuluh Darah dalam Menurunkan Angka Kematian

Pencegahan kondisi tersebut merupakan bagian yang sangat penting, dimana diperlukan peran tenaga kesehatan dalam memberikan edukasi kepada masyarakat.

Editor: Muji Lestari
Dok. UKRIDA
Pelatihan bantuan hidup dasar (Basic Life Support/BLS) untuk masyarakat awam dan Advanced Cardiac Life Support (ACLS) untuk tenaga medis dan paramedis. 

Oleh dr.Marcel Antoni, M.Biomed dan dr. Fendra Wician, Sp.PD

TRIBUNJAKARTA.COM - Berdasarkan sumber World Health Organization (WHO), pada tahun 2019 terdapat 17,9 juta kasus kematian akibat penyakit jantung dan pembuluh darah (kardiovaskuler).

Hampir 85 persen penyebab kematian adalah akibat serangan jantung dan stroke.

Sebuah laporan dari halaman Center for Disease Control & Prevention (CDC) tahun 2022 juga menyebutkan, di Amerika Serikat, diperkirakan terdapat satu kasus serangan jantung setiap 40 detik.

Baca juga: Dosen Ukrida Jelaskan Soal Papan Kanban, Kunci Kolaborasi Efektif, dari Toyota Sampai ke Ruang Kelas

Di Indonesia, berdasarkan sumber Kementerian Kesehatan RI tahun 2020, kematian akibat Penyakit Jantung Koroner (PJK) mencapai 1,25 juta dari 250 juta jiwa penduduk.

Berdasarkan data-data tersebut, diketahui bahwa penyakit kardiovaskular merupakan salah satu penyakit dengan angka kesakitan dan kematian tertinggi hampir di seluruh dunia.

Meskipun ilmu pengetahuan, teknologi diagnostik, dan terapi di dunia kedokteran mengalami kemajuan yang sangat pesat, namun angka kesakitan dan kematian akibat PJK masih tinggi.

Baca juga: Ukrida Akan Drop Out Mahasiswa yang Terlibat Pembuatan Surat PCR Palsu

Hal tersebut dipengaruhi oleh banyak faktor, diantaranya kebiasaan merokok, pola makan tidak sehat, dan gaya hidup tidak sehat, seperti kurangnya olah raga/aktivitas fisik teratur serta adanya kondisi kesehatan/penyakit penyerta lainnya, seperti berat badan berlebih/obesitas, tekanan darah tinggi, kencing manis, dan abnormalitas kolesterol.

Pencegahan berkembangnya kondisi tersebut merupakan bagian yang sangat penting, dimana diperlukan peran tenaga kesehatan dalam memberikan edukasi kepada masyarakat.

Selain edukasi mengenai pola hidup sehat yang bersifat preventif, untuk mengatasi tingginya angka kematian akibat penyakit kardiovaskular seperti PJK dan stroke, diperlukan juga edukasi kepada masyarakat luas mengenai gejala-gejala khas yang dapat timbul.

Pada PJK dan serangan jantung, gejala yang mungkin dialami, antara lain nyeri dada sebelah kiri atau tengah seperti tertindih/tertekan, yang dapat menjalar sampai ke lengan kiri atau ke rahang dan umumnya timbul dipicu aktivitas fisik maupun stress secara psikis.

Pada stroke, gejala dapat berupa kelumpuhan yang muncul pada sebagian anggota tubuh secara tiba-tiba, bicara pelo, dan wajah yang tidak simetris.

Serangan jantung dan stroke dapat terjadi pada siapapun, kapanpun, dan dimanapun, sehingga pengenalan gejala sejak dini dan apa tindakan yang harus segera dilakukan sangat penting untuk diketahui.

Langkah-langkah pertolongan pertama yang dapat dilakukan oleh anggota keluarga/teman ketika menghadapi hal tersebut di rumah atau di tempat kerja turut berperan dalam tingkat keberhasilan penanganan lanjutan terhadap penderita PJK/stroke di rumah sakit.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jakarta
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved