Tante Jual Keponakan Usia 8 Bulan

Adopsi Berbayar Jadi Modus Tante di Pademangan Pasarkan Keponakan yang Masih Usia 8 Bulan

AA (51), tante penjual keponakannya yang masih bayi berusia 8 bulan punya modus adopsi berbayar untuk memasarkan korban di Pademangan.

TribunJakarta.com/Gerald Leonardo Agustino dan KOMPAS IMAGES/DHONI SETIAWAN
Kolase foto bayi yang dijual dan ilustrasi borgol. AA (51), tante penjual keponakannya yang masih bayi berusia 8 bulan punya modus adopsi berbayar untuk memasarkan korban di Pademangan. 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Gerald Leonardo Agustino

TRIBUNJAKARTA.COM, TANJUNG PRIOK - AA (51), tante penjual keponakannya yang masih bayi berusia 8 bulan punya modus tersendiri untuk memasarkan korban.

Supaya tidak terkesan blak-blakan menjual bayi, AA menawarkan korban lewat pesan singkat dengan dalih adopsi berbayar.

Kasat Reskrim Polres Pelabuhan Tanjung Priok AKP Sang Ngurah Wiratama mengatakan, AA sempat menghubungi beberapa orang yang dipercaya soal penjualan bayi ini.

"Dia menawarkan ke beberapa orang lewat WhatsApp, dia sebarin hanya kepada orang yang dia percaya, berhubung kita juga ada namanya patroli siber, kita berhasil mengungkapnya," kata Wiratama di kantornya, Rabu (20/7/2022).

Dalam prosesnya, AA menawarkan ke beberapa orang bahwa bayi yang dijualnya ini bisa diadopsi.

Baca juga: Tante di Pademangan Jual Bayi 8 Bulan Rp 30 Juta: Ibu Korban Diancam, Ayahnya Entah ke Mana

Namun, pihak yang hendak mengadopsi bayi tak berdosa itu harus membayar uang puluhan juta sebagai ganti rugi.

"Mau jual bayi dengan bahasanya adopsi tapi ada uang ganti rugi. Siapa yang mau adopsi dengan uang ganti rugi," kata Wiratama.

"Sementara kalau adopsi yang sebenarnya kan cuma ngurus surat, nggak keluar biaya," sambung Kasat Reskrim.

Bayi perempuan 8 bulan yang dijual tantenya sendiri di Pademangan.
Bayi perempuan 8 bulan yang dijual tantenya sendiri di Pademangan. (Gerald Leonardo Agustino/TribunJakarta.com)

Penjualan bayi tak berdosa itu diketahui ibu korban, S, yang diancam oleh AA. Namun lain halnya dengan sang ayah K yang tidak mengetahui kasus perdagangan orang ini.

Wiratama mengatakan, penjualan bayi ini sebenarnya diawali ulah K yang meminjam uang Rp 11 juta kepada AA.

Ketika K sedang berlayar, utang belasan juta itu terus-terusan ditagih AA kepada S alias ibu bayi tersebut.

Karena S tak kuasa membayar utang-utang suaminya, alhasil dirinya dengan terpaksa merelakan bayinya dijual oleh AA, yang tak lain adalah sepupunya sendiri.

Baca juga: Teganya Tante Jual Keponakan Usia 8 Bulan di Jakarta Utara, Hanya Lantaran Urusan Utang Rp 11 Juta

"Sebenarnya yang ngutang bapaknya yang berlayar ini, bukan utang ibunya. Bapaknya nggak tau masalah penjualan anak ini. Utang si bapak, tapi yang ditagih si ibu, karena si bapaknya ini lagi berlayar," jelas Wiratama.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jakarta
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved