Buat Bocah SD Depresi Sampai Meninggal Dipaksa Setubuhi Kucing, Para Pelaku Datangi Rumah Korban

F dipaksa untuk bersetubuh dengan kucing sambil direkam pelaku. Sudah bikin korban menderita, pelaku lalu minta maaf bawa keluarga.

Penulis: Siti Nawiroh | Editor: Yogi Jakarta
Kolase TribunJakarta
Bocah SD jadi korban perundungan teman-temannya di Tasikmalaya, Jawa Barat. Puncaknya dipaksa menyetubuhi kucing lalu direkam hingga rekaman tersebut tersebut. Akibatnya korban menjadi depresi dan meninggal dunia. 

"Saya minta jangan lagi ke anak lainnya," ujarnya.

Di sisi lain, Kepala KPAID Kabupaten Tasikmalaya, Ato Rinanto, mengaku pihaknya kali pertama mengetahui ada rekaman tak senonoh anak dengan kucing dari pesan yang beredar di Whatsapp.

Setelah ditelusuri, ternyata korbannya sudah meninggal dunia.

Baca juga: Kisah Bocah SD di Cengkareng Ngamuk Tak Mau Sekolah Ngebet Disunat, Tentara Sampai Turun Tangan

"Kami awalnya ada laporan video rekaman anak yang dibully oleh teman-temannya dan dipaksa begitu dengan kucing,"

"Setelah didatangi rumah korban, ternyata korban sudah meninggal," kata Ato.

KPAID Kabupaten Tasikmalaya akan melaporkan kejadian perundungan anak ini ke Unit Perlindungan Perempuan Anak (PPA) Satreskrim Polres Tasikmalaya.

Bocah SD jadi korban bullying, pelaku meminta korban bersetubuh dengan kucing.
Bocah SD jadi korban bullying, pelaku meminta korban bersetubuh dengan kucing. (kompas.com)

Pihaknya pun mendampingi keluarga korban untuk pemulihan psikis dan juga berlaku pendampingan kepada para pelaku karena usianya masih anak-anak.

"Kami sedang melakukan pendampingan pemulihan psikis kepada keluarga korban,"

"Kami juga sedang berkoordinasi dengan keluarga pelaku untuk pendampingan dalam kasus ini," ujar Ato.

Adanya kasus ini, Praktisi Media Sosial, Hariqo Wibawa Satria mengatakan, ungkapan ibu korban yang meminta kasus ini tidak terulang dan menimpa anak-anak lain perlu mendapat perhatian khusus.

Salah satu mengantisipasi kejadian tersebut, Hariqo mengimbau orangtua untuk membatasi penggunaan kamera di ponsel.

Kamera ponsel pada anak bisa dinonaktifkan, kalau di android buka pengaturan, masuk aplikasi, non aktifkan. Atau hapus sekalian.

Baru aktifkan kalau dia sudah bisa menjelaskan apa yg boleh dan tidak boleh dilakukan dengan kamera itu, kata Hariqo.

Menurut Hariqo, Kamera di ponsel bisa membuat anak agresif, memfoto dan merekam apa pun, bahkan kamera bisa digunakan untuk mempermalukan teman-temannya.

Baca juga: Sempat Dikira Kucing, Jasad Bayi Laki-laki Terbungkus Kain Ditemukan 3 Santri di Pintu Masjid Depok

Halaman
1234
Sumber: Tribun Jakarta
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved