Angka Stunting di Kota Tangerang Capai 15,3 Persen, Penyabab Awal Ini Jangan Diremehkan

Stunting merupakan kondisi dimana pertumbuhan tinggi badan anak yang tidak sesuai dengan umur saat ini.

Penulis: Ega Alfreda | Editor: Acos aka Abdul Qodir
net/um-surabaya.ac.id
Ilustrasi stunting 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Ega Alfreda

TRIBUNJAKARTA.COM, TANGERANG -Ahmad Rohili, Kepala Bidang Pemerintahan Pembangunan Manusia (PPM), Bappeda Provinsi Banten mengungkapkan, angka stunting Kota Tangerang berada pada angka 15,3 persen.

Fakta di atas berdasarkan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) yang dilakukan Kementerian Kesehatan.

Sedangkan berdasarkan Elektronik-Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (E-PPGBM) angka stunting Kota Tangerang diangka 8,03 persen yang sudah turun dari 9,65 persen pada 2020.

Ini merupakan data by name by address yang dilakukan puskesmas melalui pelayanan Posyandu di seluruh daerah. 

"Dengan angka stunting 15,3 persen, pasalnya ini di bawah angka Provinsi bahkan Nasional," jelas Rohili kepada wartawan Senin (1/8/2022).

"Namun, baik data SSGI dan E-PPGBM tetap menjadi acuan kota kabupaten untuk terus menekan angka stunting," sambung dia.

Baca juga: 3.693 Balita di Depok Derita Stunting, 70 Persen Berasal dari Golongan Masyarakat Mampu

Stunting merupakan kondisi dimana pertumbuhan tinggi badan anak yang tidak sesuai dengan umur saat ini.

Kondisi ini dipicu kurangnya nutrisi saat hamil, bayi dan saat masih anak-anak.

Sedangkan gizi buruk merupakan jenis kondisi, dimana kekurangan baik dari segi protein, kalori serta vitamin dan mineral. 

Menurut Rohili, dalam penanganan stunting, Kota Tangerang benar-benar melakukannya secara terstruktur.

Mulai dari pendataan, penentuan lokus stunting, perencanaan pada jajaran OPD terkait, hingga pendampingan target sasaran. 

"Tak hanya pada programnya, tapi sektor-sektor pendukungnya, seperti taman-taman yang mendukung tumbuh kembang anak, kebersihan kota yang terjaga, bahkan ada program DKP yang turun langsung untuk memenuhi asupan balita yang bergizi, ini satu program yang buat kami langsung ke akar masalah," tegasnya. 

Baca juga: Mulai 2023, PAM Jaya Bakal Distribusikan Air Langsung Minum dari Sungai Ciliwung

Sementara itu, Rohili juga menjelaskan ada lima klaster penilaian pada Kota Layak Anak.

Di antaranya, hak sipil dan kebebasan; lingkungan keluarga dan pengasuhan alternatif; kesehatan dasar dan kesejahteraan, pendidikan, pemanfaatan waktu luang dan kegiatan budaya; serta perlindungan khusus. 

"Dalam lima klaster tersebut, Kota Tangerang berhasil meraih skor hingga 964 poin. Semua klaster memiliki nilai yang tinggi, tapi kolaborasi semua pihak hingga pihak swasta lah yang menjadi nilai tambah Kota Tangerang," pungkasnya.

Sumber: Tribun Jakarta
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved