Muka Lama Partai Baru Pada Pendaftaran Parpol di KPU, Direktur Trust Soroti Kepercayaan Masyarakat

Direktur Eksekutif Trust Indonesia, Azhari Ardinal buka suara terkait munculnya puluhan partai baru, namun tetap digawangi oleh muka-muka lama.

Editor: Wahyu Septiana
Tribunnews.com/Danang Triatmojo
Sejumlah partai politik datang bersamaan ke Kantor KPU RI, Jalan Imam Bonjol, Menteng, Jakarta Pusat pada Senin (1/8/2022). Direktur Eksekutif Trust Indonesia, Azhari Ardinal buka suara terkait munculnya puluhan partai baru, namun tetap digawangi oleh muka-muka lama. 

TRIBUNJAKARTA.COM, JAKARTA -  Direktur Eksekutif Trust Indonesia, Azhari Ardinal buka suara terkait munculnya puluhan partai baru, namun tetap digawangi oleh muka-muka lama.

Diketahui, dalam waktu dekat pemilu akan menjadi penentu dalam sistem demokrasi Indonesia sebagai sarana pergantian kekuasaan dan kepemimpinan nasional.

Antusiasme partai politik baru yang menghiasi pendaftaran di KPU 1 Agustus 2022 lalu, menandai dimulainya kompetisi.

Para partai baru tentunya ingin mendapatkan atensi publik dalam meraih kekuasaan politik legislatif maupun eksekutif.

"Tidak ada yang salah dari fenomena ini, namun yang mesti diingat bahwa pilihan politik masyarakat hari ini adalah reaksi terhadap kekecewaannya dimasa yang lampau dan harapannya dimasa yang akan datang," kata Azhari Ardinal, kepada wartawan, Selasa (2/8/2022).

"Sehingga mendapatkan kembali kepercayaan publik adalah tujuan utama dari setiap partai politik yang mendaftar di KPU," sambungnya.

Baca juga: Massa Buruh yang Demo May Day di KPU seketika Rebutan Amplop THR, Ternyata Sosok Ini yang Beri

Azhari Ardinal menambahkan, bila berdasarkan hasil riset Trust Indonesia tahun ini menempatkan partai politik pada lembaga negara pada tingkat kepercayaan paling rendah.

"Ini adalah tantangan serius bagi setiap partai baru yang notabene digawangi oleh wajah lama untuk membuktikan diferensiasinya dengan partai yang sudah eksis lama. Karena jelas akan terjadi irisan basis massa dengan partai induknya secara langsung maupun tidak langsung," paparnya.

Dikatakan Azhari Ardinal bahwa wajah lama seperti nama Amin Rais dengan partai Ummat, Anis matta dengan partai Gelora, Farhat abbas dengan partai Pandai, Agus jabo dengan partai Prima dan yang lainnya, adalah gambaran serius dari pertarungan isu yang akan diusung pada kontestasi politik 2024 mendatang.

Baca juga: Situs Diretas, KPU Jaktim Belum Laporkan Peretas yang Sebut Pemerintah Berbisnis dengan Covid-19

Selain itu, Azhari Ardinal mengatakan bahwa dengan berbagai instrumen yang mengiringinya, mulai dari actor politik, mesin partai, funding politik, media yang membentuk opini dan tentunya pemilih itu sendiri.

"Kita berharap terbangun proses dialogis yang mencerdaskan publik bukan saja atas janji kerja kepemimpinan eksekutif dan legislatif kedepan."

"Namun lebih dari itu, pemilih menjadi sadar dan tergerak untuk ikut mengawal proses pemerintahan dengan berbagai ranah kebijakannya. Sementara dalam spektrum kepartaian terbangun sebuah dialog yang lebih fokus dan berkualitas untuk menjadi bagian dari solusi permasalahan bangsa," tutupnya.

Sumber: Tribun Jakarta
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved