Perkara Makan Siomay Tak Mau Bayar, Mulyana Sampai Harus Diseret ke PN Jakarta Utara

Perkara memesan siomay dan tidak pernah membayar, pria bernama Mulyana DS alias Zenzen harus duduk pesakitan di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Utara.

Editor: Wahyu Septiana
Shutterstock
Ilustrasi sidang pengadilan. Perkara memesan siomay dan tidak pernah membayar, pria bernama Mulyana DS alias Zenzen harus duduk pesakitan di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Utara 

TRIBUNJAKARTA.COM, JAKARTA - Perkara memesan siomay dan tidak pernah membayar, pria bernama Mulyana DS alias Zenzen harus duduk pesakitan di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Utara, pada Senin (1/8/2022). 

Diketahui, Mulyana sudah sejak tahun 2021 memesan siomay dan tidak pernah membayarnya.

Sang pedagang kesal sudah sering bolak-balik menagih pembayaran, namun tak dipedulikan.

Total kerugian pedagang siomay tersebut lantaran Mulyana tidak kunjung mau melunasi pembelian dari pertama sampai terakhir sebesar Rp 4 juta lebih.

Kesabaran pedagang siomay itu habis hingga akhirnya melaporkan Mulyana ke pihak Kepolisian.

Mulyana didakwa bersalah Jaksa Penuntut Umum (JPU) Melani Simanjuntak SH MH, diduga melanggar pasal 378 KUHP gara-gara membeli makanan siomay.

Baca juga: Gerobak Hancur, Tukang Siomay Tutup Usia Setelah Terlempar Ditabrak Mobil Boks di Sumedang

Kasusnya, menurut Melani, bermula dari lelaki lanjut usia itu memesan siomay sampai tiga kali dari seorang pedagang yang sama pada pertengahan 2021.

Usai mendengarkan surat dakwaan JPU Melani, Ketua Majelis Hakim Boko SH MH, menanyakan kepada terdakwa maupun penasihat hukumnya apakah mengajukan nota keberatan atau eksepsi atas surat dakwaan JPU tersebut.

Ilustrasi sidang
Ilustrasi sidang (google)

Baik terdakwa maupun tim penasihat hukumnya menyatakan mengajukan eksepsi.

Mendengar itu, Boko memberi kesempatan kepada penasihat hukum menyusun eksepsi.

"Sidang berikutnya pekan depan. Seharusnya dibayarkan saja pembelian siomaynya agar masalahnya tidak sampai ke pengadilan ini," ujar Boko.

JPU Melani Simanjuntak mengaku bahwa pihaknya sudah mencoba menyelesaikan kasus itu lewat rumah keadilan atau Restoratif Justice (RJ).

Namun pihak saksi korban tidak mau lagi berdamai.

"Dia (saksi korban) diduga sudah terlanjur kesal sebelumnya berulangkali  menagih tetapi pembeli itu tidak mau membayarnya,"  kata Melani.

Halaman
12
Sumber: Warta Kota
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved