Ajudan Jenderal Ferdy Sambo Ditembak

Sederhanakan Analisa Nasib Ferdy Sambo Ke Depan, Mahfud MD Analogikan Kasus Polisi Selingkuh

Menko Polhukam, Mahfud MD memberikan analisa sederhana soal nasib Irjen Ferdy Sambo ke depannya perihal kasus kematian Brigadir J.

Penulis: Elga Hikari Putra | Editor: Yogi Jakarta
Kolase Tribun Jakarta
Kolase foto Mahfud MD dan Ferdy Sambo. Menko Polhukam, Mahfud MD memberikan analisa sederhana soal nasib Irjen Ferdy Sambo ke depannya perihal kasus kematian Brigadir J. 

TRIBUNJAKARTA.COM - Menko Polhukam, Mahfud MD memberikan analisa sederhana soal nasib Irjen Ferdy Sambo ke depannya perihal kasus kematian Brigadir J.

Untuk lebih memudahkan penjelasannya agar mudah dipahami, Mahfud MD menganalogikan masa depan Ferdy Sambo dengan kasus seorang polisi yang ketahuan selingkuh.

Hal itu disampaikan Mahfud MD saat diminta menjelaskan soal maksud dari postingannya di media sosial terkait sanski etik dan pidana yang bida diberikan bersamaan.

"Ya begini, kadangkala sebuah tindak pidana itu berhimpitan antara pidana dengan etika," papar Mahfud MD menjelaskan maksud postingannya itu saat diwawancarai Kompas TV, Minggu (7/8/2022).

Mahfud MD kemudian menganalogikan dengan kasus seorang polisi yang ketahuan berselingkuh.

Baca juga: Ferdy Sambo di Sel Khusus, Hari Ini Bharada E Ajukan JC ke LPSK, Siap Bongkar Fakta Soal Brigadir J

"Misalnya begini, ada seorang polisi diduga melakukan perzinaan di sebuah hotel dan ketangkap sedang dengan seorang perempuan tidak pakai baju.

Itu kan pidana kalau dilaporkan oleh istrinya.

Tapi juga, itu etik. Kenapa ada seorang polisi tertangkap basah di hotel bersama istrinya orang lain atau perempuan lain. Itu kan etik.

Kolase Foto Irjen Ferdy Sambo dan Menkopolhukam Mahfud MD.
Menko Polhukam, Mahfud MD memberikan analisa sederhana soal nasib Irjen Ferdy Sambo ke depannya perihal kasus kematian Brigadir J.(Kolase Foto Tribun Jakarta)

Nah di sini berhimpitan, pidananya biar jalan, lalu etiknya jalan.

Karena produk hukumannya berbeda.

Kalau pidana itu yang memutus adalah hakim.

Hukumannya penjara, hukuman mati, perampasan hak, harta dan sebagainya.

Tapi kalau etik atau disiplin, itu hukumannya administratif saja.

Misalkan diskors, diberhentikan, dipecat, kemudian diberi teguran, diturunkan pangkat, ditunda
kenaikan pangkat dan sebagainya, itu etik," papar Mahfud MD.

Baca juga: Mahfud MD Bicara ada Mabes di Dalam Mabes, Bedol Desa Ala kapolri Bongkar Kasus Brigadir J

Halaman
123
Sumber: Tribun Jakarta
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved