Pemimpin Hasil Pilpres 2024 Diharapkan Jalankan Warisan Nilai Tujuh Presiden Terdahulu

Diharapkan calon pemimpin Indonesia ke depan mengambil pelajaran dari kepemimpinan tujuh presiden sebelumnya.

Istimewa
Ketua Institut Harkat Negeri (IHN) sekaligus mantan Menteri ESDM, Sudirman Said, di Jakarta, Rabu (17/8/2022. 

TRIBUNJAKARTA.COM - Presiden hasil Pemilihan Presiden 2024 diharapkan memiliki restorasi semangat kepemimpinan.

Sebab, meski sudah 77 tahun Republik Indonesia merdeka, justru terjadi degradasi nilai-nilai hingga etika berbangsa.

"Perlu restorasi semangat kepemimpinan, supaya ke depan enggak hanya mengejar pembangunan fisik, kuantitatif, tapi kualitatif juga seperti kerukunan," kata Ketua Institut Harkat Negeri (IHN), Sudirman Said, di Jakarta, Rabu (17/8/2022.

Menurutnya, unsur kualitatif tersebut yang mesti dibangun antara lain aspek sosial, hukum, dan politik. Bagaiamana pemimpin ke depan dapat menggerakkan kerukunan sosial yang lebih komprehensif.

Di sisi lain, Sudirman juga mendorong aspek politik lebih dibenahi, khususnya dalam menghadapi kontestasi politik.

"Kalau bisa, kita mendorong proses politik ke depan harus dijadikan perlombaan kebaikan," kata dia.

Baca juga: Berkoalisi dengan Cak Imin di Pilpres 2024, Prabowo: dari Dulu Kita Selalu Dekat di Hati

Menurut Sudirman, banyak peninggalan positif warisan tujuh presiden sejak Soekarno dan hal-hal yang mesti diperbaiki.

Diharapkan calon pemimpin Indonesia ke depan mengambil pelajaran dari kepemimpinan tujuh presiden sebelumnya. Sehingga, kepemimpinan ke depan dapat lebih baik.

Sudirman juga memprediksi politik identitas seperti suku, agama, ras dan antargolongan (SARA) untuk menjatuhkan lawan masih mewarnai Pilpres 2024.

Baca juga: Anies Baswedan Malu-malu, Kabar Duet Sama AHY di Pilpres 2024 Makin Kencang: Selesaikan Dulu di DKI

Baca juga: Dear Prabowo, Pakar Politik Berikan Saran Ini Agar Menang di Pilpres 2024: Agar Tak Kalah Lagi

Padahal, ada masalah bangsa yang lebih penting dan jadi tujuan sebuah proses pemilu yakni keadilan atau kesenjangan dan penegakan hukum.

"Keadilan sosial belum tercapai, hukum belum tegak, korupsi masih berantakan," ujarnya.

Ia berharap masyarakat dan calon pemimpin dapat menyuarakan permasalahan ini dibandingkan mengedepankan politik identitas.

Sumber: Tribun Jakarta
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved