Pemilik Bus Metromini Mengaku Rugi Rp1 Miliar karena Kontrak Palsu Gabung Transjakarta

Sejumlah pemilik bus Metromini merugi Rp1 miliar setelah diduga jadi korban penipuan modus bergabung dengan PT Transportasi Jakarta (Transjakarta).

Penulis: Bima Putra | Editor: Jaisy Rahman Tohir
TRIBUNJAKARTA.COM/BIMA PUTRA
Komisaris PT Metromini, Herlambang Wicaksono saat memberi keterangan di Mapolres Metro Jakarta Timur, Jumat (2/8/2022). 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Bima Putra

TRIBUNJAKARTA.COM, JATINEGARA - Sejumlah pemilik bus Metromini merugi Rp1 miliar setelah diduga jadi korban penipuan modus bergabung dengan PT Transportasi Jakarta (Transjakarta).

Para pemilik mengaku dimintai uang berkisar Rp300 juta agar bus Metromini yang kini sudah dilarang beroperasi di Jakarta dapat mengaspal sebagai armada PT Transjakarta.

Komisaris PT Metromini, Herlambang Wicaksono mengatakan penipuan tersebut diduga dilakukan seorang pengurus PT Metromini yang kini menjadi terlapor di Polres Metro Jakarta Timur.

"Perjanjiannya ada salah satu anggota dijanjikan kontrak per kilometer. Sedangkan kontrak dari PT Transjakarta belum ada untuk PT Metromini," kata Herlambang, Jumat (2/8/2022).

Para pemilik bus menyerahkan uang karena tertipu surat kontrak palsu antara PT Metromini dengan PT Transjakarta yang sebelumnya ditunjukkan oknum pengurus Metromini.

Dalam surat dibuat pada tahun 2019 itu terdapat tandatangan satu Direktur PT Transjakarta, sementara saat ditelusuri langsung PT Transjakarta menyatakan tidak mengeluarkan surat kontrak.

"Sudah ada kuasa hukum (korban) yang bersurat ke PT Transjakarta. Transjakarta sudah memberikan surat balasan yang mana PT Metromini belum berkontrak dengan PT Transjakarta," ujar Herlambang.

Atas kasus dugaan penipuan dan penggelapan ini pemilik Metromini sudah membuat laporan ke Satreskrim Polres Metro Jakarta Timur, kasusnya kini dalam tahap penyelidikan.

Kepala Departemen Humas dan Kemitraan PT Transjakarta, Iwan Samariansyah menuturkan hingga kini memang belum ada bus Metromini yang beroperasi sebagai armada PT Transjakarta.

"Karena masih ada kendala proses administratif. Kepengurusan Metromini ada dualisme," tutur Iwan.

Iwan juga mengatakan hingga kini PT Transjakarta tidak pernah mengeluarkan surat kontrak kerja sama dengan PT Metromini sebagai operator bus Transjakarta.

"Setahu saya belum. Soal isu uang, itu jelas pelanggaran berat kalau benar terjadi. Melanggar prinsip good corporate governance," lanjut Iwan.

Sumber: Tribun Jakarta
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved