Mengenal Sunardi, Sosok di Balik Suksesnya Pemilu di DKI Jakarta

Sunardi merupakan sosok di balik suksesnya Pemilu 2019 di DKI Jakarta. Mari mengenal Ketua KPUD DKI Jakarta ini.

TribunJakarta.com/Dionisius Arya Bima Suci
Ketua KPUD DKI Jakarta Sunardi saat ditemui di Kantornya di kawasan Salemba, Jakarta Pusat. 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Dionisius Arya Bima Suci

TRIBUNJAKARTA.COM, SENEN - Namanya tak banyak yang mengetahui, bahkan saat dicari di mesin pencari google pun tak banyak informasi tentang sosoknya.

Padahal, ia adalah salah satu sosok krusial dalam keberhasilan Pemilu 2019 silam di DKI Jakarta.

Dia adalah Sunardi, Ketua Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) DKI Jakarta.

Bapak dua anak ini menjabat sebagai Ketua KPUD DKI periode 2018-2023.

Mantan dosen Universitas Satyagama ini sudah berkecimpung di dunia pemilihan umum sejak tahun 2004.

Saat itu, ia bertindak sebagai Ketua Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara di salah satu Tempat Pemungutan Suara (TPS) di Jakarta Barat.

Baca juga: Berkaca Pemilu 2019, Kapolri: 2024 Jangan Gunakan Politik Yang Sebabkan Polarisasi Bangsa

Kemudian saat Pilkada DKI 2007, Sunardi turut terlibat menjadi Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK).

"Sebenarnya saya enggak mau daftar karena waktu itu saya sudah ngajar, terus temen di rumah minta saya daftar. Katanya harus ada perwakilan dari kampung saya," ucapnya saat diwawancarai TribunJakarta.com, Senin (12/9/2022).

"Jadi yang daftarin itu teman saya, bukan saya sendiri yang daftar," tambahnya sambil mengenang masa-masa itu.

Selepas Pilkada DKI 2007, Nardi kemudian dibujuk oleh Ketua KPU Kota Jakarta Barat saat itu untuk mencoba mendaftar di KPUD.

Awalnya ia enggan mendaftar lantaran dirinya sudah bekerja sebagai marketing di perusahaan biji silika dan dosen di Universita Satyagama.

Namun, sang Ketua KPU Kota Jakarta Barat saat itu akhirnya bisa menyakinkan Sunardi agar dirinya mau bergabung di KPU.

Baca juga: Partai Garuda Dukung Pernyataan Wapres untuk Hindari Politik Identitas Saat Kampanye Pemilu 2024

"Saya enggak mau sebenarnya, tapi dipaksa. Yasudah saya daftar saja, hari terakhir daftarnya. Ikuti proses, eh akhirnya diterima, padahal gajinya juga lebih gede di kampus," ujarnya sambil tertawa.

Halaman
123
Sumber: Tribun Jakarta
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved