Sisi Lain Metropolitan

Upaya Tati Mandirikan Disabilitas Lewat Ecoprinting:Orang Harus Lihat Karya dari Mutu, Bukan Kasihan

Tati Leliana Purba, pengajar SLB Negeri 6 Jakarta itu berupaya memandirikan penyandang disabilitas melalui ecoprinting. Ini kisahnya.

TribunJakarta.com/Gerald Leonardo Agustino
Tati Leliana Purba, tenaga pendidik sekolah luar biasa sekaligus instruktur pelatihan membatik dengan metode ecoprinting. 

"Metode ecoprinting itu, semua daun kita ambil dari sekitar kita bisa, pewarnanya juga dari kayu-kayu, bahan-bahannya juga dari alam," kata Tati.

"Dan kainnya itu kalau saya pakai yang alat tenun bukan mesin, jadi kita mengangkat pengrajin di daerah yang sudah tidak terkenal," sambungnya.

Baca juga: Ratusan Warga Disabilitas Miskin di Kota Tangerang Dapat Bantuan Pangan Imbas Kenaikan Harga BBM

Pelatihan membatik ecoprinting sekaligus mengajarkan kemandirian terhadap mereka.

Keterbatasan anak-anak SLB dalam mendengar dan berbicara, ditegaskan Tati tak menyurutkan semangat mereka untuk terus belajar.

Tekad Tati memandirikan anak-anak disabilitas lahir dari keprihatinannya akan pandangan orang-orang.

Menurut Tati, pernah ada saja calon pembeli karya anak-anak penyandang disabilitas ini yang berniat membeli karena rasa iba.

"Saya mau orang beli karya anak disabilitas bukan karena kasihan, tapi karena mutunya," tegas Tati.

Mimpi Menghadirkan Distro Disabilitas

Tati memiliki keinginan agar anak-anak didiknya bisa mencari uang dari keterampilan yang mereka dapatkan selama belajar di SLB.

Karenanya, harga jual yang Tati pasarkan untuk karya-karya batik ecoprinting dari para pelajar berkebutuhan khusus itu juga dipertimbangkan sebaik mungkin.

"Nanti saat pameran, mereka lihat orang bayar kain Rp 1 juta, wah mahal sekali," kata Tati.

"Jadi anak-anak bilang mahal, akhirnya di kelas kita ngobrol, kamu nanti lulus mau punya uang? Sekarang ayo membuat kain bagus," ucapnya.

Hasil karya anak-anak disabilitas itu sudah beberapa kali dipamerkan dan diperjualbelikan di beberapa pusat perbelanjaan.

Ke depannya, Tati berharap pemerintah bisa mewadahi hasil karya tersebut dengan membangun tempat lokakarya yang disebutnya sebagai "Distro Disabilitas".

Halaman
123
Sumber: Tribun Jakarta
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved