Tragedi Kanjuruhan 1 Oktober 2022

Gas Air Mata! Kesaksian Suporter Arema FC Ini Dibuat Sulit Bernapas di Dalam dan Luar Stadion

Gas air mata yang ditembakkan aparat kepolisian menjadi salah satu penyebab banyaknya korban jiwa di Stadion Kanjuruhan Malang

Istimewa
Gas air mata mengepung tribun penonton pascalaga Arema Vs Persebaya dalam lanjutan Liga 1 2022 di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Sabtu (1/10/2022) malam. Akibat kerusuhan itu, sekitar 129 orang meninggal dunia dan puluhan dirawat di berbagai rumah sakit di Kabupaten Malang, Kota Malang dan sekitarnya. 

TRIBUNJAKARTA.COM - Gas air mata yang ditembakkan aparat kepolisian menjadi salah satu penyebab banyaknya korban jiwa di Stadion Kanjuruhan, Malang, usai laga Arema FC Vs Persebaya Surabaya, Sabtu (1/10/2022),

Devandra Abi Prasetyo, salah satu suporter Arema FC yang selamat dari tragedi kemanusiaan paling mengerikan di Indonesia itu menceritakan kesaksiannya dibuat tak bisa bernapas gas air mata di dalam dan luar stadion.

Ia merasa sangat beruntung bisa lepas dari situasi chaos yang memakan banyak korban jiwa itu.

TONTON JUGA

Mulanya Abi bercerita sebelum pertandingan Arema FC vs Persebaya Surabaya dimulai, ia dan temannya masuk melalui gate 3 atau berada di tribune utara.

Setelah pertandingan selesai, dan Arema FC tumbang 2-3 dari Persebaya, kericuhan pecah.

Sejumlah suporter Arema FC menyeruak masuk ke tengah lapangan.

Namun berbeda dengan Abi, ia mengaku kala itu tak ikut turun.

Di tengah kericuhan aparat keamanan lalu melepas tembakan gas air mata, suporter panik, tunggang langgang berlarian secara sporadis.

Tak butuh waktu lama, gas air mata memakan korban sesak napas.

Sejumlah suporter Arema FC, Aremania menggotong korban kerusuhan sepak bola usai laga lanjutan BRI Liga 1 2022/2023 antara Arema FC melawan Persebaya Surabaya di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Sabtu (1/10/2022) malam. Sebanyak 127 orang meninggal dunia dan ratusan lainnya luka-luka dalam kerusuhan tersebut menyusul kekalahan Arema FC dari Persebaya Surabaya dengan skor 2-3.
Sejumlah suporter Arema FC, Aremania menggotong korban kerusuhan sepak bola usai laga lanjutan BRI Liga 1 2022/2023 antara Arema FC melawan Persebaya Surabaya di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Sabtu (1/10/2022) malam. Sebanyak 127 orang meninggal dunia dan ratusan lainnya luka-luka dalam kerusuhan tersebut menyusul kekalahan Arema FC dari Persebaya Surabaya dengan skor 2-3. (SURYA/PURWANTO)

Baca juga: Arema FC Vs Persebaya, Suporter Gelar Tabur Bunga di GBK Malam Ini untuk Korban Tragedi Kanjuruhan

"Ambulance woi, ambulance! Kancaku selak mati (temanku keburu mati)." Kalimat itu terdengar di telinga Abi tiga kali saat kerusuhan terjadi.

"Aku harus keluar!" ungkap Abi dalam hati.

Bukan dia tak peduli dengan suporter lainnya, tetapi menyelamatkan diri jadi prioritasnya saat itu.

gas air mata membuat dirinya dan suporter lain tak bisa bernapas di tribune.

"Saya memutuskan keluar sebelum chaos terjadi, menjadi keputusan yang tepat."

"Saya tak bisa membayangkan telat keluar beberapa menit saja," ungkap dia.

Baca juga: Arema FC Vs Persebaya Tewaskan 174 Orang, Berikut Posko Informasi Keluarga Korban Tragedi Kanjuruhan

Detik-detik kerusuhan yang terjadi diwarnai suara-suara petasan dan kepulan asap dari gas air mata.

Di saat sudah berhasil keluar Stadion Kanjuruhan, Abi tak langsung bisa bernapas lega.

Gas air mata juga ditembakkan di luar stadion, dan membuatnya lagi-lagi sulit bernapas.

"Celakanya, di luar pun sama. Di luar tetap ditembaki (gas air mata). Sampai harus berlindung di kios orang," cerita dia.

Dalam video yang beredar, banyak yang menunjukkan situasi di tribune selatan.

Baca juga: Tragedi Kanjuruhan Laga Arema FC Vs Persebaya, The Jak Cilincing: Panpel Belum Siap Hadapi Derbi

Nyatanya, sisi utara tak lepas dari kepungan asap gas air mata.

"Kena mas," cerita dia soal kondisi di tribune utara ditembaki gas air mata.

"Beberapa menit setelah saya keluar, orang-orang sudah semburat (kacau balau), injek-injekan keluar dari pintu yang sempit itu," terangnya.

"Pergi" Sebelum Kembali

Mereka yang masuk dalam daftar korban sudah "pergi".

Hanya nama yang tersisa ke pangkuan keluarga mereka.

Petugas mengecek foto-foto korban Tragedi Kanjuruhan pascalaga Arema VS Persebaya untuk diperlihatkan kepada keluarga yang sedang mencari anggota keluarganya di salah satu rumah sakit di Malang, Minggu (2/10/2022).
Petugas mengecek foto-foto korban Tragedi Kanjuruhan pascalaga Arema VS Persebaya untuk diperlihatkan kepada keluarga yang sedang mencari anggota keluarganya di salah satu rumah sakit di Malang, Minggu (2/10/2022). (Surya/Sugiharto)

Baca juga: Suporter Arema FC Korban Selamat Kami Dipukul, Ditendang Petugas, Hingga Teman Kami Meninggal

Abi, berada di tengah tragedi Kanjuruhan, tak menampik banyaknya korban meregang nyawa.

"Tanpa pertolongan yang layak dan sulitnya akses ke rumah sakit, mungkin orang-orang itu sudah 'pergi' sebelum sampai."

"Sejauh ini, yang beredar di media sosial kejadian di dalam stadion. Di luar (stadion) lebih daripada itu," terang dia.

Berhenti Menjadi Suporter Tragedi Kanjuruhan abadi, baik dalam ingatan maupun catatan sejarah kelam sepak bola Indonesia.

Devandra Abi Prasetyo memutuskan tak ingin terlibat lagi dalam dunia suporter sepak bola Indonesia.

Kejadian yang dia alami pada malam 1 Oktober 2022 akan selalu dia ingat.

Baca juga: Tragedi Kanjuruhan Laga Arema FC Vs Persebaya, The Jak Cilincing: Panpel Belum Siap Hadapi Derbi

Bahkan sampai dia tua dan berkeluarga nanti.

"Setelah akhirnya nribun 11 tahun, saya selesai dengan Arema," kata dia.

"Mungkin lebay. Tapi pulang dengan selamat, lebih penting daripada sekadar tiga poin," tandasnya.


Korban Meninggal 174 Jiwa

Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Dardak menyampaikan update terbaru terkait jumlah korban Tragedi Stadion Kanjuruhan.

Jumlah korban meninggal dunia setelah laga Arema FC vs Persebaya Surabaya itu meningkat menjadi 174 jiwa.

Menurut Emil Dardak, data tersebut merupakan update data yang dihimpun oleh BPBD Jawa Timur hingga siang hari pukul 10.30 WIB.

"Kami mendapatkan data dari Data BPPD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) Jatim bahwa per pukul 09.30 tadi masih 158 orang yang dinyatakan sebagai korban meninggal dunia."

"Namun pada pukul 10.30 jumlah korban meninggal dunia bertambah menjadi 174 orang," kata Emil, Minggu (2/10/2022).

Merujuk data BPBD Jatim, setidaknya telah terdata sebanyak 298 orang menjadi korban tragedi Kanjuruhan. Sejumlah 11 orang dilaporkan luka berat. Dan ada sebanyak 174 orang korban meninggal dunia.

"Menurut data yang terhimpun BPBD Provinsi Jawa Timur per pukul 10.30, tadi 174 korban meninggal dunia," ulang Emil Dardak.

Dikatakan mantan Bupati Trenggalek tersebut, korban meninggal dunia itu berada di delapan rumah sakit yang berbeda-beda di Malang.

Pihak pemerintah provinsi maupun kabupaten terus melakukan sinergi dan update data untuk memastikan tidak ada data ganda ataupun misalnya ada korban yang belum terdata.

"Pemprov berencana memberikan santunan bagi korban meninggal dan lukan berat, ini nanti juga ditambah dengan santunan yang diberikan pemerintah kabupaten. Yang paling penting pengobatan tidak boleh ada kendala biaya," tegas Emil Dardak.

Beberapa rumah sakit yang menjadi rujukan para korban insiden Kanjuruhan yaitu Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA) Malang, Rumah Sakit Wava Husada, RSUD Kanjuruhan, Rumah Sakit Hasta, Rumas Sakit Gondanglegi, Rumah Sakit Teja Husada, Rumah Sakit Mitra Delima.

Menurutnya untuk memantapkan penanganan para korban, ditegaskan Emil Dardak bahwa seluruh dinas sektor terkait ikut turun ke lapangan. Seperti Dinas Kesehatan Jatim juga sudah menerjunkan tim untuk membantu penanganan. Begitu juga dari BPBD Provinsi, Kabupaten dan Kota Malang.

OPD provinsi Jawa Timur yang memiliki keterkaitan dengan penanganan kejadian ini pun turut turun membantu tim di lapangan untuk terus berkoordinasi untuk menindaklanjuti.

Lebih lanjut, Emil Dardak menegaskan bagi para keluarga korban yang membutuhkan informasi bisa menghubungi Call Center BPBD Pemkot Malang di 112, layanan ini terhubung 24 jam atau 082140402323.

"Kami menerima laporan ada pihak keluarga yang langsung datang ke RSSA karena khawatir anggota keluarganya dilarikan ke RS karena tidak bisa dihubungi," tambah Emil.

 

Sumber: Tribun Jakarta
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved