5 Sektor Ini jadi Penyumbang Emisi Gas Rumah Kaca Terbesar di Jakarta, Transportasi Capai 46 Persen

Kemudian disusul sektor pembangkit listrik, industri manufaktur, emisi residensial atau limbah rumah tangga dan limbah padat tempat pemrosesan akhir

Warta Kota/Nur Ichsan
Ilustrasi emisi gas rumah kaca (GRK) di Jakarta - Institut Teknologi Bandung (ITB) merilis ada lima sektor penyumbang gas rumah kaca (GRK) di Jakarta dan transportasi menduduki posisi pertama penghasil emisi GRK di ibu kota. 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Nur Indah Farrah Audina

TRIBUNJAKARTA.COM, GAMBIR - Kepala Pusat Kebijakan Keenergian Institut Teknologi Bandung (ITB) Retno Gumilang Dewi sebut ada lima sektor yang menjadi penyumbang emisi gas rumah kaca (GRK) di Jakarta.

Sektor transportasi menduduki posisi pertama sebagai penghasil emisi GRK terbesar di Jakarta sebanyak 46 persen.

Kemudian disusul sektor pembangkit listrik, industri manufaktur, emisi residensial atau limbah rumah tangga dan limbah padat tempat pemrosesan akhir (TPA)

"Ada lima kontributor utama penghasil emisi GRK di DKI Jakarta, pertama transportasi sebesar 46 persen. Sektor pembangkit listrik 31 persen, industri manufaktur 8 persen, emisi residensial atau limbah rumah tangga 6 persen, dan limbah padat TPA," jelasnya dalam acara publik ekspose inventarisasi profil emisi dan pelaporan penurunan emisi GRK tahun 2022 di Balai Kota DKI Jakarta, Gambir, Jakarta Pusat, Rabu (2/11/2022).

Alasan inilah membuat Pemprov DKI Jakarta melakukan kerjasama denganĀ  ITB untuk melaksanakan inventarisasi emisi GRK.

Baca juga: Soal Wacana Penerapan Pajak Karbon, Anggota DPR: Hitung Seksama, Jangan Bunuh Industri

Adapun hal ini sudah tertuang dalam Perpres Nomor 98 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Nilai Karbon untuk Pencapaian Target Kontribusi yang Ditetapkan secara Nasional dan Pengendalian Emisi Gas Rumah Kaca dalam Pembangunan Nasional.

Sebab, kata Retno, jumlah mobil listrik yang sudah mengaspal di Jakarta belum bisa mengurangi emisi GRK secara signifikan.

Kepala Pusat Kebijakan Keenergian Institut Teknologi Bandung (ITB) Retno Gumilang Dewi publik ekspose inventarisasi profil emisi dan pelaporan penurunan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) tahun 2022 di Balai Kota DKI Jakarta, Gambir, Jakarta Pusat, Rabu (2/11/2022).
Kepala Pusat Kebijakan Keenergian Institut Teknologi Bandung (ITB) Retno Gumilang Dewi publik ekspose inventarisasi profil emisi dan pelaporan penurunan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) tahun 2022 di Balai Kota DKI Jakarta, Gambir, Jakarta Pusat, Rabu (2/11/2022). (TribunJakarta.com/Nur Indah Farrah)

"Profil emisi GRK diharapkan dapat dijadikan acuan dalam menentukan langkah serta peran Pemprov DKI Jakarta terhadap kegiatan pencegahan perubahan iklim di tingkat nasional. Kota Jakarta ini ditargetkan menjadi kota berketahanan iklim pada 2030 mendatang," sahut Kepala Bidang Tata Lingkungan dan Kebersihan Dinas LH DKI Jakarta, Erni Pelita.

Anies Sempat Targetkan Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca 30 Persen pada 2025

Anies Baswedan swaktu masih menjabat sempat menargetkan penurunan emisi karbon atau gas rumah kaca (GRK) sebesar 30 persen tercapai pada tahun 2025.

Hal ini disampaikannya saat membuka acara Jakarta Investment Forum (JIF) 2022 di Hotel Fairmount, Jakarta Pusat.

"Pertama, kami mau mengurangi green house gas emission hingga 30 persen di 2030. Sekarang, tahun 2022 kita bersyukur telah meraih 26 persen dari 30 persen target itu. So, we are ahead of that target. Jadi kami optimis di tahun 2025 nanti kami akan meraih target itu," ujar Anies.

Target ini maju lima tahun lebih awal lantaran pencapaian yang sudah ditorehkan pada Maret 2022 lalu.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved