Profesor Pertanian-Eks Komandan NATO Beri Dukungan Prabowo Soal Singkong

Menhan Prabowo Subianto mendapatkan dukungan dari profesor pertanian dan eks Komandan NATO soal singkong dalam internasional Global Food di Bali.

Istimewa via Tribunnews
Menteri Pertahanan RI Prabowo Subianto. Prabowo Subianto mendapatkan dukungan dari profesor pertanian dan eks Komandan NATO soal singkong dalam internasional Global Food di Bali, Minggu (13/11/2022). 

TRIBUNJAKARTA.COM, JAKARTA - Menteri Pertahanan RI Prabowo Subianto menyampaikan gagasan mengenai singkong sebagai tanaman untuk mendukung cadangan pangan strategis.

Gagasan Prabowo Subianto itu diamini Profesor pertanian Indonesia Achmad Subagio dan Purnawirawan jenderal Angkatan Darat Amerika Serikat (AS) Wesley Kanne Clark, Sr.

Hal ini mereka utarakan pada gelaran internasional Global Food Security Forum di Bali, Minggu 13 November 2022.

Profesor pertanian yang merupakan Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Jember Achmad Subagio mengatakan bahwa dirinya bertekad untuk meneliti dan mengolah sumber pangan lokal sejak tahun 2004, lalu pilihannya jatuh pada singkong.

“Kenapa singkong, karena sumber pangan ini mudah dan banyak ditemukan di Indonesia,” ujarnya.

Baca juga: Jokowi Kembali Bikin Prabowo Subianto Sumringah, Disebut Bakal Gantikannya Jadi Presiden

Subagio mengatakan dalam forum itu bahwa Indonesia adalah negara besar dengan pertumbuhan dan pertambahan penduduk yang tinggi dan mereka memerlukan kebutuhan pangan yang besar.

Namun, Indonesia tidak bisa hanya bergantung pada beras. Terlebih apabila terus menerus impor.

“Karena itu perlu sumber pangan alternatif yang bisa dijangkau masyarakat,” katanya.

Sementara itu, Wesley yang pernah menjadi Komandan Sekutu Tertinggi Eropa NATO ini mengatakan gagasan mengenai singkong ini merupakan solusi dari masalah pangan dunia atau food security yang kini tengah terjadi.

Krisis pangan dunia terjadi akibat efek pandemi Covid-19 yang melanda dunia dan diperburuk dengan perang Rusia-Ukraina yang menghambat suplai pangan dunia, mengingat kedua negara tersebut adalah penghasil gandum terbesar dunia.

"Antara kepemimpinan di pemerintahan untuk visinya, swasta untuk mengambil langkahnya, lalu mereka pun dibantu untuk melancarkan kreativitas," katanya dalam forum tersebut.

Baca artikel menarik lainnya TribunJakarta.com di Google News

Sumber: Tribun Jakarta
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved