Tragedi Kanjuruhan 1 Oktober 2022

Korban Ungkap Alasan Laporkan Kasus Tragedi Kanjuruhan Sebagai Pembunuhan Berencana ke Bareskrim

Terungkap alasan korban laporkan tragedi Kanjuruhan sebagai pembunuhan berencana ke Bareskrim Polri, Jumat (18/11/2022).

TRIBUNJAKARTA.COM/BIMA PUTRA
Para korban Stadion Kanjuruhan dan Tim Gabungan Aremania saat tiba di kantor LPSK, Ciracas, Jakarta Timur, Jumat (18/11/2022). 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Bima Putra

TRIBUNJAKARTA.COM, CIRACAS - Korban tragedi laga Arema FC vs Persebaya di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur membuat laporan kasus ke Bareskrim Polri pada Jumat (18/11/2022).

Ada tiga laporan yang dibuat ke Bareskrim Polri, yakni pembunuhan sebagaimana dimaksud Pasal 338 KUHP, pembunuhan berencana sebagaimana diatur dalam Pasal 340 KUHP.

Penganiayaan sebagaimana diatur dalam Pasal 351 KUHP, dan kekerasan terhadap anak sebagaimana diatur sebagaimana diatur dalam UU Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak.

Tim Hukum Gabungan Aremania, Ahmad Agus Muin mengatakan pihaknya melaporkan tragedi Kanjuruhan sebagai kasus pembunuhan berencana ke Bareskrim karena sejumlah alasan.

Di antaranya bahwa hasil pemeriksaan Tim Gabungan Independen Pencari Fakta (TGIPF) kepada Kapolres Malang, yang isinya Kapolres menyatakan tidak ada penggunaan gas air mata.

Baca juga: Korban Kanjuruhan Diduga Dihalangi Intel Saat Berangkat ke Jakarta untuk Lapor Bareskrim

"Hasil pemeriksaan kepada Kapolres bahwa tidak ada penggunaan gas air mata. Tapi pada faktanya di lapangan ada gas air mata," kata Muin di kantor LPSK, Jakarta Timur, Jumat (18/11/2022).

Kemudian dari hasil pemeriksaan digital forensik dilakukan Tim Gabungan Aremania, ditemukan ada pihak yang memerintahkan penggunaan gas air mata saat pengamanan laga.

Hal ini yang disampaikan kepada penyelidik Bareskrim Polri saat para korban membuat laporan kasus tragedi Stadion Kanjuruhan sebagai pembunuhan berencana.

"Ada beberapa atasan yang menyuruh secara langsung. Ini masih dugaan kami, makannya kita perlu tetap nanti sampaikan kepada pihak penyidik untuk mempertimbangkan," ujarnya.

Korban Stadion Kanjuruhan saat mendatangi LPSK untuk mengajukan permohonan perlindungan, Ciracas, Jakarta Timur, Jumat (18/11/2022).
Korban Stadion Kanjuruhan saat mendatangi LPSK untuk mengajukan permohonan perlindungan, Ciracas, Jakarta Timur, Jumat (18/11/2022). (Bima Putra/TribunJakarta.com)

Muin menuturkan untuk memperkuat laporan kasus pembunuhan, penganiayaan, dan kekerasan terhadap anak ke Bareskrim Polri tersebut pihaknya sudah menyiapkan sejumlah bukti.

Di antaranya keterangan para saksi dan hasil pemeriksaan medis para korban, sehingga mereka berharap proses hukum tidak hanya berjalan sebatas hasil penyidikan Polda Jawa Timur.

"Ada (bukti). Satu, saksi korban. Kemudian ada beberapa hasil rontgen, hasil pemeriksaan. Makannya tadi kan lihat ada adik kita yang patah (kaki). Itu salah satu bukti, dan akan kita lengkapi juga," tuturnya.

Muin mengatakan pihaknya masih melengkapi bukti medis karena ada rumah sakit yang ketika awal kejadian menangani korban tapi enggan memberikan hasil pemeriksaan medis korban.

Menurutnya laporan ketiga kasus dibuat korban ke Bareskrim Polri masih dalam tahap telaah oleh penyelidik, sehingga korban dan Tim Gabungan Aremania masih menunggu perkembangan.

"Rekan-rekan pendamping yang ada di sana masih proses telaah. Disampaikan seperti itu, jadi belum jelas. Barusan saya konfirmasi juga untuk perkembangannya bagaimana masih proses telaahan," lanjut dia.

 

Baca artikel menarik lainnya TribunJakarta.com di Google News

 

Sumber: Tribun Jakarta
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved