Ajudan Jenderal Ferdy Sambo Ditembak

Cerita Kombes Susanto Diminta Bawa Senjata Laras Panjang ke Rumah Ferdy Sambo: Dikira Ada Teroris

Kombes Susanto Haris, menceritakan saat dirinya diminta pergi ke rumah dinas Ferdy Sambo yang jadi lokasi tewasnya Brigadir J.

Penulis: Annas Furqon Hakim | Editor: Elga H Putra
Tribun Jakarta/Annas Furqon Hakim
Kondisi rumah dinas Ferdy Sambo yang jadi lokasi pembunuhan Brigadir J di Komplek Polri Duren Tiga, Pancoran, Jakarta Selatan - Eks Kabag Gakkum Provost Divisi Propam Polri, Kombes Susanto Haris, menceritakan saat dirinya diminta pergi ke rumah dinas Duren Tiga atau tempat kejadian perkara (TKP) penembakan Nofriansyah Yosua Hutabarat alias Brigadir J. 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Annas Furqon Hakim


TRIBUNJAKARTA.COM, PASAR MINGGU - Eks Kabag Gakkum Provost Divisi Propam Polri, Kombes Susanto Haris, menceritakan saat dirinya diminta pergi ke rumah dinas Ferdy Sambo di Duren Tiga atau tempat kejadian perkara (TKP) penembakan Nofriansyah Yosua Hutabarat alias Brigadir J.

Susanto mengatakan, mulanya ia diminta untuk menghadap ke ruangan eks Karo Provost Polri Brigjen Benny Ali pada Jumat (8/11/2022).

Ketika itu, Susanto baru saja selesai mengerjakan paparan presentasi untuk jajaran Biro Provost.

"Saya menghadap dengan berpakaian dinas dan memakai sandal karena habis Salat Jumat," kata Susanto saat bersaksi dalam sidang perkara pembunuhan berencana Nofriansyah Yosua Hutabarat alias Brigadir J di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Senin (28/11/2022).

Susanto pun mengaku mendapat perintah untuk segera menuju rumah dinas Ferdy Sambo di Komplek Polri Duren Tiga.

Baca juga: Anak Buah Tak Tahu Ada Peristiwa di Duren Tiga, Ferdy Sambo Marah hingga Sebut Apatis

Ia juga diminta membekali diri dengan membawa senjata laras panjang dan body face.

"Segera ke rumah Pak Kadiv, saya ditelepon Pak Kadiv Propam untuk segera ke rumah Pak Kadiv ada penembakan. Bawa senjata panjang dan body face," kata Susanto mencontohkan perintah Benny Ali.

Susanto mengaku terkejut dan bingung mengapa harus membawa senjata laras panjang dan body face. Saat itu ia sempat berpikir ada aksi terorisme.

"Saya pikir kok bawa senjata panjang dan body face? Apa ada teroris, apa ada anggota yang marah," ujar dia.

"Ya sudah kita sama-sama Karo Provost Pak Benny Ali untuk berangkat. Jadi jam 17.25 kami berangkat," tambahnya.

Baca artikel lainny dari TribunJakarta.com di Google News

Sumber: Tribun Jakarta
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved