Kasus Kejahatan Industri Farmasi di Indonesia, Apa Mampu Dijerat Hukum Pidana?

Pengacara Senior, Dr. Ari Yusuf Amir, SH, MH memberikan pandangan terkait kasus kejahatan industri farmasi di Indonesia.

Editor: Wahyu Septiana
ISTIMEWA
Pengacara Senior, Dr. Ari Yusuf Amir, SH, MH memberikan pandangan terkait kasus kejahatan industri farmasi di Indonesia. 

TRIBUNJAKARTA.COM, JAKARTA - Pengacara Senior, Dr. Ari Yusuf Amir, SH, MH memberikan pandangan terkait kasus kejahatan industri farmasi di Indonesia.

Terbaru, kasus kejahatan di industri farmasi di Indonesia merenggut korban jiwa.

Kali ini, beberapa produk obat sirup ditengarai menyebabkan gagal ginjal akut pada anak-anak (acute kidney injury/AKI).

Awalnya kasus ini marak terjadi pada Agustus 2022 di Sumatera Barat dan Denpasar yang menyebabkan sejumlah anak meregang nyawa.

Kasus ini kemudian terus mengalami lonjakan.

Tercatat hingga 18 november 2022, tercatat 324 anak mengalami gagal ginjal akut, bahkan 199 anak di antaranya meninggal dunia.

Kondisi ini semakin miris ditengah minimnya fasilitas kesehatan dan dokter spesialis di beberapa daerah, sebagaimana dialami Nafisa, balita 2 tahun 7 bulan.

"Setelah meminum obat kemasan sirup untuk mengatasi batuk pileknya, ia malah sering muntah. Sehari berselang, Nafisa tak lagi kencing. Badannya membengkak," kata dia.

"Oleh dokter ia divonis mengalami gangguan pernafasan akibat racun menumpuk di tubuh lantaran tak bisa berkemih. Balita Nafisa kemudian diminta cuci darah setiap hari," tambahnya.

Nafisa disarankan untuk perawatan di Pekanbaru atau Jakarta, tapi karena keterbatasan biaya, orang tuanya tak sanggup.

Baca juga: Guru Besar Farmasi UGM Luruskan Ucapan Dokter Lois Soal Interaksi Obat Picu Kematian Pasien Covid-19

Begitu juga yang dialami balita 11 bulan, Rizky Nuryanto. Ia mengalami diare dan kakinya kaku setelah meneguk vitamin dan paracetamol sirup dari salah satu rumah sakit.

Sebelumnya pada pertengahan September, balita Rizki meminum obat batuk dari pusat kesehatan masyarakat setempat, tapi justru pingsan dan kejang.

Ia lalu dirujuk ke salahsatu Rumah Sakit, tubuhnya bengkak karena tak bisa kencing.

Setelah mengalami beberapa kali transfusi darah, nyawanya tetap tak bisa diselamatkan, balita itu berpulang untuk selama-lamanya.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved