Harga Bahan Pokok Naik, Pengusaha Warteg Dibayangi Kebangkrutan

engusaha warteg dibayangi kebangkrutan akibat kenaikan harga sejumlah bahan pokok yang terjadi secara bersamaan.

Penulis: Bima Putra | Editor: Jaisy Rahman Tohir
TribunJakarta/Satrio Sarwo Trengginas
Suasana Warteg Kharisma Bahari di kawasan Cilandak, Jakarta Selatan pada Selasa (28/9/2021). 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Bima Putra

TRIBUNJAKARTA.COM, JATINEGARA - Pengusaha warteg dibayangi kebangkrutan akibat kenaikan harga sejumlah bahan pokok yang terjadi secara bersamaan.

Ketua Komunitas Warteg Nusantara (Kowantara), Mukroni mengatakan akibat kenaikan harga bahan pokok ini banyak pengusaha warteg yang harus merogoh uang lebih banyak untuk modal usaha.

"Belum pernah warteg mengalami suasana pahit seperti ini. Kelihatannya pemerintah tidak kuasa mengendalikan inflasi terutama seputar bahan sembako," kata Mukroni, Sabtu (3/12/2022).

Bagaimana tidak, bila mengacu pada laman infopangan.jakarta.go.id, harga beras, minyak goreng, cabai, bawang, telur ayam, hingga daging ayam melonjak bersamaan.

Pada Rabu (3/12/2022) infopangan.jakarta.go.id mencatat kenaikan komoditas bahan paling tinggi terjadi di minyak goreng curah, kenaikannya sebesar naik Rp 3.519 menjadi Rp 18.602 per kilogram.

Kemudian bawang putih tercatat naik Rp 2.234 menjadi di harga Rp 31.340 per kilogram, dan cabai rawit merah naik Rp1.480 sehingga menjadi di harga Rp 48.045 per kilogram.

Baca juga: Pedagang Warteg Pusing, Harga Beras Mahal

"Beban semakin membuat pedagang warteg skala kecil bisa berhenti. Karena setiap hari susah belanja, modalnya tidak cukup untuk beli yang mau dijajakan. Setiap hari harga naik," ujar Mukroni.

Mukroni menuturkan bagi pengusaha warteg 2022 merupakan tahun paling berat karena banyak harga komoditas yang melonjak dan tidak bisa dikendalikan pemerintah.

Mereka khawatir bila pemerintah tidak bisa mengandalikan harga kasus banyak warteg bangkrut sebagaimana saat kasus terkonfirmasi covid19 masih tinggi pada tahun 2020.

"Semua warteg yang kecil-kecil kecewa dengan harga yang tidak bisa dikendalikan dan naik terus. Modal akan tergerus dan bisa mengakibatkan banyak warteg bangkrut," tuturnya.

Sumber: Tribun Jakarta
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved