Di 2023, IDEA Optimis Pertumbuhan Ekonomi dari e-Commerce Bakal Naik 15-20 Persen

Indonesian E-Commerce Association (IDEA) optimis bahwa pertumbuhan ekonomi e-commerce di 2023 akan meningkat di angka 15-20 persen.

Editor: Elga H Putra
istimewa
Perwakilan IDEA pada sesi Indonesia Industry Outlook 2023 di MarkPlus Conference 2023. Head of Public Policy and Government Relations IDEA, Rofi Uddarojat optimis pertumbuhan ekonomi e-commerce di 2023 akan meningkat di angka 15-20 persen. 

TRIBUNJAKARTA.COM - Indonesian E-Commerce Association (IDEA) optimis bahwa pertumbuhan ekonomi e-commerce di 2023 akan meningkat di angka 15-20 persen.

Hal itu disampaikan Head of Public Policy and Government Relations IDEA, Rofi Uddarojat pada sesi
Indonesia Industry Outlook 2023 di MarkPlus Conference 2023.

Rofi menyebut prediksi peningkatan itu ditopang dari tiga faktor pendukung.

"Yakni konsumsi dalam negeri yang dapat menopang e-commerce, yang kedua internet user di Indonesia sebesar 77 persen (210 juta) dan terus meningkat, serta peningkatan digitalisasi untuk UMKM yang
mencapai 12 juta on-board selama pandemi,” kata dia, Kamis (8/12/2022).

Dalam kesempatan itu, Rofi turut mengulas soal fenomena Shoppertainment.

Baca juga: Surya Paloh Tak Hadiri Pernikahan Kaesang, Pengamat Politik: Ketum NasDem Trauma Disindir Jokowi?

Di mana dalam beberapa tahun ini, Rofi mengungkap batasan antara entertainment dan shopping yang semakin tipis.

“Saat ini semua platform akan memberikan perpaduan entertainment melalui menonton video
sambil belanja.

Sekarang e-commerce sedang mengembangkan live-shopping,” kata dia.

Hal ini, lanjut Rofi,  terlihat tentang fenomena yang terjadi di China, di mana pengguna internet bukan lagi mencari
barang ketika ingin berbelanja, tapi sifatnya komplementer dengan kegiatan hiburan.

Sehingga dua fenomena ini melebur, yang akibatnya pengguna internet tidak perlu lagi
berpindah-pindah platform karena kebutuhan hiburan dan berbelanja menjadi satu.

Rofi menyatakan hal ini yang dinamakan discovery-based, bukan search-based.

“Brand itu mencari pasar yang niche: pengikut loyal akan langsung membeli produk yang
diendorse oleh KOL yang diminatinya. Platform ini juga memiliki sistem komisi dengan para
KOL.

Pemain social-commerce sukses menggabungkan pola hidup social networking dan
commercial selling,” tutur Rofi.

Baca artikel lainnya dari TribunJakarta.com di Google News

Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved