Waspada! Ini 6 Ciri-ciri Lowongan Kerja Palsu, Jangan Sampai Kena Tipu

Zaman sekarang banyak orang mencari lowongan kerja lewat internet. Tapi hati-hati, di internet juga banyak lowongan kerja palsu, berikut ciri-cirinya.

Tayang:
Editor: Muji Lestari
Freepik
Ilustrasi lowongan kerja. Kenali ciri-ciri lowongan kerja palsu, jangan sampai kena tipu! 

TRIBUNJAKARTA.COM - Seiring berkembangnya zaman, kini informasi lowongan kerja banyak tersedia di internet.

Mencari lapangan pekerjaan memang susah-susah gampang. Ditambah, kerap muncul lowongan kerja palsu yang tak jarang berujung pemerasan pada pencari kerja.

Maka dari itu, para pencari kerja harus lebih hati-hati dan teliti dalam melamar pekerjaan.

Managing Director JobStreet Indonesia Varun Mehta mengatakan, fenomena lowongan keja palsu ini terjadi karena banyak pihak tak bertanggung jawab yang menyalahgunakan nama besar dari perusahaan dengan tujuan menjebak orang-orang yang sedang mencari pekerjaan.

Biasanya, cara yang digunakan oleh pembuat lowongan kerja palsu adalah menggunakan informasi palsu dari sebuah perusahaan besar atau menciptakan perusahaan fiktif.

Agar terhindar dari lowongan kerja palsu, para pencari kerja perlu mengetahui ciri-ciri lowongan kerja palsu yang beredar di internet.

Lantas, seperti apa ciri-ciri lowongan kerja palsu?

Baca juga: Dear Fresh Graduate: Perhatikan 5 Hal Ini saat Melamar Kerja Via Email, Pastikan Pakai Format PDF

1. Pekerjaan yang ditawarkan terlalu bagus untuk menjadi kenyataan

Lowongan kerja palsu kerap mengimingi calon korbannya dengan gaji yang besar untuk tanggung jawab pekerjaan yang ringan.

Pasalnya, memiliki gaji besar dan pekerjaan yang mudah tentu menjadi impian semua orang.

Dengan menawarkan hal ini, para penipu menjebak para korban yang berharap bisa mendapatkan uang dengan pekerjaan yang mudah.

Meski, biasanya di awal tindak penipuan ini penipu akan meminta sejumlah uang kepada korban.

Umumnya, para korban yang terjebak merupakan pencari kerja yang mencari pekerjaan paruh waktu atau belum memiliki pengalaman kerja yang mumpuni atau bahkan masih baru lulus sekolah.

Untuk itu, jika lowongan kerja yang ditawarkan terlalu bagus untuk menjadi kenyataan lebih baik lupakan saja.

Namun jika masih ragu lowongan kerja itu penipuan atau bukan, Anda bisa mengecek website perusahaan tersebut atau mencari tahu berapa kisaran gaji di pasaran dengan pekerjaan yang sama dengan yang ditawarkan.

2. Perekrut berkomunikasi secara eksklusif melalui media sosial

Jika seorang perekrut menghubungi Anda melalui media sosial, Anda sebaiknya mulai menaruh curiga.

Sebab, perekrut dari perusahaan resmi biasanya berkomunikasi melalui email, telepon, atau aplikasi lowongan kerja, di mana identitas mereka yang sebenarnya ditampilkan.

Baca juga: Simak Cara Membuat CV untuk Pemula, Ini Kalimat yang Tak Boleh Diucapkan saat Interview Kerja

Beberapa perekrut mungkin mengirim pesan kepada kandidat melalui media sosial sebelum beralih ke sarana komunikasi yang lebih formal seiring berlanjutnya pembicaraan.

3. Perusahaan mengirimkan email yang mencurigakan

Berkomunikasi melalui email memang menjadi hal yang lumrah untuk urusan pekerjaan, begitu pun saat melamar pekerjaan.

Ilustrasi lowongan kerja
Ilustrasi lowongan kerja (Freepik)

Namun perlu diingat, berkomunikasi melalui email tidak secara otomatis membuat perekrut menjadi sah. Bahkan, Anda bisa mengidentifikasi penipuan rekrutmen lowongan pekerjaan berdasarkan isi email.

Apakah pesan tersebut berasal dari alamat email resmi perusahaan?

Jika itu berasal dari alamat email pribadi atau yang tidak terkait dengan perusahaan yang diklaimnya mewakili, maka iklan pekerjaan itu bisa jadi penipuan.

4. Perekrut menanyakan informasi pribadi

Perusahaan yang sesungguhnya hanya tertarik pada informasi dasar yang biasanya tertera di daftar riwayat hidup atau curriculum vitae, seperti pengalaman kerja, latar belakang, pendidikan, dan keahlian.

Mereka tidak akan mungkin menanyakan informasi pribadi calon pekerjanya seperti detail informasi bank, nomor jaminan sosial, password email, dan sebagainya.

Informasi seperti nomor rekening dan nomor jaminan sosial boleh diberikan jika perusahaan sudah mempekerjakan Anda.

Orang-orang yang meminta lebih banyak informasi dari Anda daripada yang biasanya dibutuhkan oleh pemberi kerja mungkin mencari hal lain.

Karena itu, waspadalah terhadap iklan pekerjaan atau tawaran pekerjaan yang membutuhkan detail pribadi yang tidak umum untuk bagikan ke orang lain.

5. Mendapatkan tawaran pekerjaan instan tanpa surat lamaran

Jika seseorang menghubungi Anda secara online dengan tawaran pekerjaan langsung, itu merupakan tanda bahaya yang serius.

Tawaran pekerjaan akan datang setelah proses lamaran kerja yang lengkap, meliputi penyerahan resume dan surat lamaran, penyaringan kandidat yang tepat oleh pemberi kerja, dan wawancara kerja formal.

Tawaran pekerjaan tidak dibagikan secara bebas dan acak kepada siapapun yang memiliki alamat email atau akun media sosial.

6. Perekrut meminta sejumlah uang

Penpipu lowongan kerja palsu dapat mengambil jumlah uang yang banyak dari para pencari kerja.

Mereka meyakinkan korban untuk mengeluarkan uang sebagai bagian dari pekerjaan, dengan janji mendapatkan jumlah yang lebih besar di kemudian hari.

Perusahaan yang meminta uang ini adalah salah satu tanda bahaya terbesar saat melihat iklan pekerjaan atau tawaran pekerjaan.

Jika Anda harus membayar untuk melamar pekerjaan, kemungkinan besar lowongan itu palsu.

 

Sumber: Tribun Jakarta
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved