Kepala BKKBN Ajak Ikatan Doktor Ilmu Komunikasi UNPAD Bersinergi Atasi Stunting di Indonesia

Akibat stunting ini tingkat kecerdasan (IQ) orang Indonesia berada di posisi 130 di dunia, dengan angka 78,49.

Editor: Elga H Putra
net/um-surabaya.ac.id
Ilustrasi stunting. Stunting masih menjadi masalah serius di Indonesia. Akibat stunting ini tingkat kecerdasan (IQ) orang Indonesia berada di posisi 130 di dunia, dengan angka 78,49. 

TRIBUNJAKARTA.COM - Stunting masih menjadi masalah serius di Indonesia.

Akibat stunting ini tingkat kecerdasan (IQ) orang Indonesia berada di posisi 130 di dunia, dengan angka 78,49.

Hal itu disampaikan Kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Dr (HC) dr Hasto Wardoyo, SP.OK (K) saat menjadi Keynote Speaker Webinar Ikatan Doktor Ilmu Komunikasi (IDIK) UNPAD dalam rangka Dies Natalis ke-5 dengan tema Komunikasi Merawat Negeri.

Hasto mengatakan pemerintah Indonesia akan melakukan percepatan penurunan stunting.
Dimana target Presiden Joko Widodo pada tahun 2024, stunting di Indonesia di angka 14 persen dari yang saat ini masih di posisi 24 persen.

Untuk itu, Hasto Wardoyo mengajak Ikatan Doktor Ilmu Komunikasi (IDIK) UNPAD untuk berkolaborasi dalam menyelenggarakan sosialisasi program BKKBN menurunkan angka stunting di Indonesia.

Baca juga: Ekspansi Usaha di Bidang Energi, Koperasi Pegawai BKKBN Buka Pom Bensin di Bekasi 

Menurutnya, komunikasi menjadi bagian penting dalam melakukan kampanye secara masif agar terjadi revolusi sikap dan pola pikir masyarakat untuk memperhatikan gizi makanan dan lingkungan yang sehat.

“Orang Jepang IQ-nya tinggi karena melakukan revolusi makan dengan setiap hari makan ikan.
Kalau orang Indonesia agar IQ-nya menjadi tinggi sebenarnya cukup makan telur sehari satu saja akan terjadi kenaikan IQ,” kata Hasto Wardoyo.

Dikatakan Hasto, ada kebiasaan yang kurang baik di kalangan anak-anak di Indonesia yakni lebih suka mengonsumsi makanan cepat saji atau makanan olahan seperti mie instan, yang harganya relatif lebih mahal dibanding dengan harga ikan atau telur.

Kebiasaan ini akan membuat asupan gizi kepada tubuh dan berdampak pada kecerdasan.

"Sudah waktunya masyarakat Indonesia melakukan revolusi makan yang sehat dan bergizi untuk masa depan negeri ini," tuturnya.

Selain itu, Hasto juga menyoroti adanya gaya hidup yang boleh dibilang lucu yakni adanya acara pre wedding, yang menelan biaya jutaan bahkan puluhan juta.

Namun ada yang dilupakan yakni cek kesehatan pada kedua pasangan calon pengantin atau prakonsepsi.

Hal ini penting, karena prakonsepsi mendeteksi kesehatan kedua calon mempelai sebelum melakukan pembuahan.

“Biayanya relatif terjangkau, tapi seringkali diabaikan. Makanya BKKBN bekerja sama dengan Kementerian Agama dan Babinsa TNI, agar masyarakat prakonsepsi dulu sebelum menikah,” ungkap Hasto.

Halaman
123
Sumber: Tribun Jakarta
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved