Kasus First Travel

Datangi Kejari Depok, Korban First Travel Minta Penjelasan Terkait Putusan MA Soal Eksekusi Aset

Korban penipuan travel umrah bodong First Travel, mendatangi Kantor Kejaksaan Negeri Depok, Cilodong, Kota Depok, Kamis (19/1/2023) siang.

TribunJakarta.com/Dwi Putra Kesuma
Sejumlah korban First Travel mendatangi Kejaksaan Negeri Depok, Cilodong, Kamis (19/1/2023). 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Dwi Putra Kesuma

TRIBUNJAKARTA.COM, CILODONG - Sejumlah korban penipuan travel umrah bodong First Travel, mendatangi Kantor Kejaksaan Negeri Depok, Cilodong, Kota Depok, Kamis (19/1/2023) siang.

Didampingi kuasa hukum, maksud kedatangan mereka adalah untuk menyerahkan data para korban, agar putusan Mahkamah Agung (MA) ihwal aset dikembalikan ke para korban segera dieksekusi.

Satu di antara sejumlah korban yang hadir adalah Suyono (68). Ia mengatakan bersama para korban lainnya, ingin mencari kejelasan terkait pengembalian aset tersebut.

"Nah baru-baru ini kan MA bilang itu uang bukan milik negara, tapi jamaah, maka harus dikembalikan ke jamaah," ujar Suyoni pada wartawan di lokasi, Kamis (19/1/2023).

"Nah keputusan MA itu betul atau enggak, kan ada yang ngeshare juga di grup whatsapp (para korban)," timpal warga Kebon Jeruk ini.

Baca juga: Kejari Depok Tunggu Salinan Lengkap Terkait Pengembalian Aset Kasus First Travel

Suyono mengatakan, ia bersama lima anggota keluarga lainnya telah mendaftar pada Juni 2015 lalu, dan melunasinya pda awal tahun 2016 silam.

Namun seiring berjalannya waktu, kejelasan kapan ia berangkat ke tanah suci tak kunjung ada, hingga akhirnya terkuak bahwa First Travel adalah agen umroh bodong dan pemiliknya Andika diringkus pihak kepolisian.

Sejumlah korban First Travel mendatangi Kejaksaan Negeri Depok, Cilodong, Kamis (19/1/2023).
Sejumlah korban First Travel mendatangi Kejaksaan Negeri Depok, Cilodong, Kamis (19/1/2023). (TribunJakarta.com/Dwi Putra Kesuma)

Total dari enam orang yang gagal berangkat termasuk dirinya, Suyono merugi Rp 85,8 juta.

"Jadi saya dirayu-rayu sama anak, mantu, katanya jalan saja. Terus saya daftar Juni 2015 dengan DP Rp 5 juta, dan pelunasan Januari 2016 nambah Rp 9,3 juta, total Rp 14,3 juta (perorang)," bebernya.

"Kalau ditotal enam orang sudah lunas semua jadi Rp 85,8 juta," pungkasnya.

Baca artikel menarik lainnya TribunJakarta.com di Google News

Sumber: Tribun Jakarta
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved