MinyakKita Langka, Pedagang Warteg Beralih ke Minyak Curah

Para pedagang Warung Tegal (Warteg) kini beralih menggunakan minyak goreng curah untuk memenuhi kebutuhan produksi mereka menjajakan makanan.

Tayang:
Penulis: Bima Putra | Editor: Satrio Sarwo Trengginas
Bima Putra/TribunJakarta.com
Pembeli MinyakKita di Pasar Cibubur, Ciracas, Jakarta Timur, Selasa (31/1/2023). 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Bima Putra

TRIBUNJAKARTA.COM, JATINEGARA - Para pedagang Warung Tegal (Warteg) kini beralih menggunakan minyak goreng curah untuk memenuhi kebutuhan produksi mereka menjajakan makanan.

Ketua Komunitas Warteg Nusantara (Kowantara), Mukroni mengatakan para pedagang beralih menggunakan minyak curah karena hingga kini ketersediaan MinyakKita di pasaran masih langka.

Janji pemerintah pada bulan Februari 2023 lalu untuk meningkatkan produksi dan menurunkan harga MinyakKita sebelum bulan Ramadan 1444 Hijriah kini nyatanya tidak terealisasi.

"MinyakKita kemasan susah. Warteg sudah banyak beralih ke minyak curah, karena terjangkau di situasi daya beli masyarakat yang masih rendah," kata Mukroni, Senin (27/3/2023).

Bagi para pedagang Warteg pernyataan pemerintah bahwa stok MinyakKita melimpah di pasaran hanya ada di media massa, bukan kenyataan sebagaimana mereka temui di lapangan.

Baca juga: MinyaKita Langka dan Mahal, Pedagang Warteg Beralih Gunakan Minyak Curah

Para pedagang Warteg hanya memiliki pilihan membeli minyak kemasan berbagai merek dengan harga tinggi dua kali lipat dari curah, atau minyak curah dengan harga Rp18 ribu per kilogramnya.

"Saya enggak tahu itu pemerintah di media (massa) pemerintah menggelontorkan tapi di lapangan susah. Yang tahu kan kita para pedagang, yang di lapangan beli ke toko, ke warung," ujarnya.

Selain pertimbangan harga, Mukroni menuturkan pedagang Warteg lebih memilih membeli minyak curah karena dijual dalam takaran satu kilogram sehingga lebih banyak dibanding satu liter.

Pilihan ini dianggap paling tepat bagi pedagang Warteg untuk mempertahankan usahanya di tengah lonjakan harga berbagai komoditas, dan naiknya harga eceran tertinggi (HET) beras.

"Dalam kondisi daya beli masyarakat belum pulih kita juga menghemat biaya operasional bahan baku. Sekarang minyak, telur, beras kan semua naik. Untuk menyiasati ya minyak curah," tuturnya.

Sebelumnya, Badan Pangan Nasional dan Kementerian Perdagangan menargetkan stok dan harga MinyakKita di pasaran normal sebelum bulan Ramadhan atau Maret 2023.

Kepala Badan Pangan Nasional, Arief Prasetyo Adi mengatakan beberapa waktu lalu pihaknya dan Kementerian Perdagangan (Kemendag) sudah membahas upaya peningkatan produksi.

Arief menuturkan pihaknya menargetkan produksi MinyakKita yang sekarang 300 ribu ton per bulan ditingkatkan menjadi 450 ribu ton dalam kurun waktu Februari, Maret, dan April.

Ditargetkan sebelum bulan Ramadhan 2023 ini stok MinyakKita di pasaran dapat kembali normal, termasuk kemasan botol dan bantal yang dalam beberapa waktu terakhir langka di pasar.

"Kita harus percepat lagi produksi MinyakKita yang satu liter, sehingga dari 300 ribu ton satu bulan menjadi 450 ribu ton selama tiga bulan ke depan. Iya (sebelum Ramadhan) tiga bulan ini," tutur Arief, Jumat (3/2/2023).

Baca artikel menarik lainnya TribunJakarta.com di Google News

 

Sumber: Tribun Jakarta
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved