Sisi Lain Metropolitan

Menanti Hujan di Sawah Rorotan

Abas mengungkapkan betapa bahagianya para petani Rorotan jika hujan bisa segera turun dalam waktu dekat.

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Gerald Leonardo Agustino | Editor: Acos Abdul Qodir
TribunJakarta.com/Gerald Leonardo Agustino
Kondisi lahan persawahan di Rorotan, Cilincing, Jakarta Utara, terdampak kekeringan, Selasa (19/9/2023). 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Gerald Leonardo Agustino

TRIBUNJAKARTA.COM, CILINCING - Kemarau panjang yang melanda Jakarta dan sekitarnya berdampak parah pada kelangsungan lahan pertanian di sudut Rorotan, Cilincing, Jakarta Utara.

Sudah dua bulan ini, para petani yang menggarap sekitar 300 hektare lahan persawahan di wilayah tersebut harus putar otak bagaimana caranya lahan mereka tetap bisa dipakai untuk menanam padi.

Para petani ini akhirnya masih harus menanti hujan turun di sawah Rorotan.

Sebab, banyak yang menggunakan metode tadah hujan sebagai pengairan sawah mereka, sementara kondisinya, sudah dua bulan ini hujan benar-benar tidak pernah turun.

 "Sudah dua bulan ini belum pernah (hujan). Baru hari ini mendung doang," kata petani sekaligus Ketua Kelompok Tani Maju, Sirojudin Abas (45) saat ditemui di lokasi, Selasa (19/9/2023).

Abas menuturkan, 300 hektare lahan pertanian di Rorotan terbagi menjadi dua sisi, utara dan selatan.

Ada delapan kelompok tani yang beranggotakan sekitar 200 petani menggarap lahan tersebut dan bisa menghasilkan sekitar 5-6 ton padi dari setiap hektare-nya.

Menurut Abas, sebenarnya memasuki pekan keempat bulan September ini kondisi separuh lahan persawahan sudah membaik, artinya sudah mendapatkan pengairan yang cukup.

Lahan yang sudah mendapatkan pengairan itu berada di sisi utara, di mana para petani mengalirkan air dari Kali Gendong ke sawah mereka.

"Ada juga (aliran air) dari kampung Malaka, ada juga dari Ujung Menteng, mungkin hampir separuh lah ya (yang sudah mulai bisa tanam)," kata Abas.

Di sisi lain, lahan persawahan di sisi selatan yang memiliki tanah agak tinggi masih belum mendapatkan pengairan yang mumpuni.

Lahan di sisi selatan, termasuk yang digarap Abas dan petani dari Kelompok Tani Maju, masih mengalami kekeringan total hingga hari ini.

"Ini kering, sisi atas selatan, selalu kering, karena memang satu sumber airnya jauh, kemudian paling atas. Sekitar 50 hektare," kata Abas.

Tanpa Hujan, Batal Tanam Serentak, Terancam Serangan Hama

Ketua Gabungan Kelompok Tani Maju Rorotan Sirojuddin Abas menceritakan dampak kemarau dan El Nino terhadap sawah di Rorotan, Jakarta Utara. 
Ketua Gabungan Kelompok Tani Maju Rorotan Sirojuddin Abas menceritakan dampak kemarau dan El Nino terhadap sawah di Rorotan, Jakarta Utara.  (TribunJakarta.com/Gerald Leonardo Agustino)

Abas mengungkapkan betapa bahagianya para petani Rorotan jika hujan bisa segera turun dalam waktu dekat.

Sebab, hujan adalah sumber air paling alami bagi para petani untuk menanam padi.

"Hujan adalah anugerah. Artinya ada hujan ada kehidupan bagi kami. Hujan bagi kami petani itu sumber rezeki," celetuk Abas.

Dengan metode tadah hujan yang sudah puluhan tahun digunakan, ratusan petani di Rorotan bisa melakukan tanam serentak sebagai langkah ideal mengantisipasi hama.

Namun, karena sudah dua bulan ini hujan tak kunjung turun, akhirnya sebagian petani memilih membuat irigasi dadakan lewat aliran-aliran air terdekat.

Masalahnya, lanjut Abas, jika para petani batal melakukan tanam serentak seperti tahun-tahun ke belakang, ancaman serangan hama bakal semakin menghantui.

"Dengan tanam serempak itu kita menghindari atau mengurangi populasi hama, menghindari banyaknya serangan seperi tikus, burung, dan lain-lain," kata Abas.

Abas memaparkan, jika saat ini sawah di sisi selatan sedang gersang-gersangnya, hama akan menyerang lahan di sisi utara yang sudah mulai digarap.

Khawatirnya, jika sawah di sisi utara sudah selesai panen, hama akan bermigrasi ke sisi selatan.

"Artinya ada populasi (hama) yang berkembang biak karena ketersediaan makanan si hama ini ada terus mata rantainya," sambungnya.

Mewakili para petani yang masih belum bisa menanam padi hingga hari ini, Abas pun hanya bisa berdoa dan berharap hujan segera datang.

Ia berharap besar kedatangan hujan bisa membangkitkan kembali geliat pertanian yang sudah terlelap dua bulan belakangan.

"Kita berharap ketika ada air ada kehidupan," tandasnya.

Kondisi lahan persawahan di Rorotan, Cilincing, Jakarta Utara, terdampak kekeringan, Selasa (19/9/2023).

Baca artikel menarik lainnya TribunJakarta.com di Google News

Sumber: Tribun Jakarta
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved