Penertiban Lokalisasi Gang Royal
Cerita Pelanggan Soal Gang Royal yang Kini Ditutup: Prostitusi Ramah Kantong, Modal 150 Dijamin Puas
Keberadaan Gang Royal, selain sarat prostitusi, juga menjadi kawasan yang tingkat kriminalitasnya tinggi.
Penulis: Gerald Leonardo Agustino | Editor: Jaisy Rahman Tohir
Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Gerald Leonardo Agustino
TRIBUNJAKARTA.COM, PENJARINGAN - Tempat prostitusi Gang Royal kembali ditertibkan Pemprov DKI Jakarta pada Rabu (20/9/2023) lalu.
Dalam proses penertiban, sedikitnya 150 kafe remang-remang penyedia pekerja seks komersial di lokasi dibongkar oleh ratusan petugas gabungan Satpol PP, TNI-Polri, hingga unsur terkait lainnya.
Petugas juga mengerahkan alat berat dalam rangka meratakan kafe-kafe yang berdiri di atas lahan PT Kereta Api Indonesia itu.
Seiring penertiban yang sudah kesekian kali dilakukan, pemerintah menegaskan bahwa lokalisasi Gang Royal dipastikan tutup tanpa ada relokasi.
Kasatpol PP DKI Jakarta Arifin penertiban ini untuk menegakkan Perda Nomor 8 tahun 2007 tentang Ketertiban Umum.
Keberadaan Gang Royal, tegas Arifin, selain sarat prostitusi, juga menjadi kawasan yang tingkat kriminalitasnya tinggi.
"Kita tidak menyiapkan relokasi karena bangunan merupakan tempat usaha berupa kafe yang menyediakan penghibur, kemudian masuk dalam kategori wilayah dengan angka kriminalitas tinggi," kata Arifin di lokasi, Rabu siang lalu.
Riwayat Gang Royal tamat setelah beroperasi puluhan tahun, di mana berdasarkan penuturan warga setempat, lokalisasi ini pertama kali diperkirakan bergeliat sejak tahun 1960-an.
Masa demi masa berlalu, hingga beberapa tahun belakangan Gang Royal masih menjadi tempat pilihan banyak pria hidung belang memuaskan nafsu sesaat mereka.
Barry (bukan nama sebenarnya) merupakan salah satu pelanggan setia Gang Royal.
Pria 26 tahun itu telah mengunjungi gang sempit di Jalan Rawa Bebek tersebut setidaknya sebanyak lima kali pada tahun 2021 silam.

Saat itu Barry masih mahasiswa di salah satu universitas swasta di Jakarta.
Ia mengenal Gang Royal dari seniornya.
Suatu malam di tahun 2021, Barry yang habis pesta miras bersama seniornya di kampus diajak mencari wanita untuk memuaskan nafsu birahinya yang memuncak.
Barry awalnya belum tahu apa-apa soal Gang Royal.
Yang jelas, kala itu dirinya diajak sang senior untuk mengunjungi sebuah tempat yang disebut “Royal GP”.
Kekinian Barry baru tahu bahwa “Royal GP” artinya adalah prostitusi Gang Royal yang berada di pinggir Jalan Gedong Panjang (GP), Penjaringan, Jakarta Utara.
“Awalnya ke sana diajak doang, nyebutnya waktu itu Royal GP, eh ternyata sampe ketagihan. Kalo dihitung-hitung kayaknya sudah lima kali ya, atau mungkin lebih, sudah lupa,” kata Barry saat diwawancarai TribunJakarta.com, Sabtu (23/9/2023).

Pertama kali mengunjungi Gang Royal, Barry mengaku cukup terpana dengan hiburan malam yang disuguhkan.
Saat itu, Barry hanya mengikuti seniornya mendatangi salah satu kafe di dalam gang sempit minim penerangan di lokasi.
Barry enggan menyebutkan nama kafe tersebut, yang jelas kafe itu sudah menjadi langganannya dan seniornya selama masa-masa jadi mahasiswa.
“Memang kan kafe-kafenya semua di dalam gang itu. Nah, cewek-ceweknya ini berjejer nunggu di depan kafe,” kata Barry.
Setibanya di kafe tersebut, Barry disambut seorang muncikari lalu ditawari memilih PSK.
Tepat saat itu lah Barry mulai terpana.
Meski tempatnya di dalam gang sempit, ternyata PSK-PSK yang disuguhkan di Gang Royal, kata Barry, tak sedikit yang cantik.
Apalagi, sambungnya, harga yang ditawarkan cenderung sangat ramah di kantong mahasiswa.
“Hitungannya murah, tapi cewek-ceweknya bagus,” ucap Barry.
“Rp 150 ribu itu untuk satu kali main sama orang-orang lama, kalo ada anak baru Rp 200 ribu,” katanya lagi.

Barry mengatakan, selama sekitar lima kali mengunjungi Gang Royal, dirinya selalu memesan PSK yang ternyata asal Jawa Barat.
Selama lima kali itu juga Barry belum pernah merasakan pengalaman buruk berkunjung ke Gang Royal.
“Pokoknya ini prostitusi ramah kantong, kamarnya juga nyaman kalo kafe yang saya kunjungi, nggak bau nggak kotor,” ucapnya.
Barry pun mengaku tak begitu kaget jika kini Gang Royal harus ditutup.
Menurutnya, Gang Royal mungkin sudah terlalu meresahkan sehingga pemerintah akhirnya harus bergerak melakukan penertiban besar-besaran.
“Ya mau bagaimana lagi, mungkin itu sudah yang terbaik ya,” tandas Barry.
Baca artikel menarik lainnya TribunJakarta.com di Google News
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.