Viral di Media Sosial

Bukan Saja Menunya, Stiker Wajah Wali Kota Idris di Wadah Makanan Pencegah Stunting Juga Kena Kritik

Pemerintah Kota Depok tak hanya menerima Kritik terkait makanan pencegah stunting kepada balita yang ala kadarnya.

Kolase foto (istimewa dan Tangkapan layar akun Instagram @depok24jam)
(Kiri foto) Foto viral menu makanan pencegah stunting dari Pemerintah Kota Depok cuma tahu putih dan sawi diberi kuah dan (kanan foto) ilustrasi anak stunting 

TRIBUNJAKARTA.COM - Pemerintah Kota Depok tak hanya menerima Kritik terkait makanan pencegah stunting kepada balita yang ala kadarnya.

Masyarakat juga mengkritik keras stiker berwajah Wali Kota Depok, Mohammad Idris dan wakilnya, Imam Budi Hartono di tutup wadah makanan tersebut.

Pemerintah Kota Depok melalui Dinas Kesehatan meminta vendor penyedia makanan dalam program pemberian makanan tambahan (PMT) untuk melepas stiker tersebut.

"Kemarin ketika banyak protes, kami sudah sampaikan pada vendor, tolong lepas stikernya," ujar Kepala Dinas Kesehatan Kota Depok, Mary Liziawati di Balai Kota Depok pada Kamis (16/11/2023) seperti dikutip Kompas.com.

Di tiap tutup wadah tersebut tertempel stiker potret Idris dan Imam yang sedang tersenyum.

Di bawahnya terdapat tulisan "Bocah Depok Kudu Sehat. Prestasi Hebat, Stunting Minggat".

Pemerintah mengatakan tak ada tujuan khusus dalam pemandangan stiker tersebut.

Stiker bergambar wali kota dan wakilnya tersebut sebagai tanda itu merupakan program dari pemerintah Kota Depok.

"Ini program Pemkot yang memang serentak untuk seluruh kecamatan. Ya sudah, (stiker) sebagai tanda saja bahwa ini program Pemkot Depok," tutur Mary.

Namun, Dinkes akhirnya meminta vendor melepas stiker dari tutup wadah makanan tersebut setelah dikritik habis-habisan.

Selain tutup wadah, menu pencegah stunting di Depok menuai sorotan.

Dalam foto-foto yang beredar di media sosial, menu makanan tersebut hanya nasi, kuah sup, tahu, dan sawi.

Bahkan ada wadah makanan yang hanya berisi nuget.

Dinkes mengakui adanya kekeliruan dalam pemberian makanan itu.

Dinkes menyebut kader posyandu yang mendistribusikan makanan tambahan itu tidak mendapatkan sosialisasi dengan baik.

Baca artikel menarik lainnya TribunJakarta.com di Google News

Sumber: Tribun Jakarta
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved