Marak Kasus KDRT, Pemprov DKI Didesak Buka Posko Pengaduan di Setiap RW

Pemprov DKI melalui Dinas Pemberdayaan, Perlindungan Anak dan Pengendalian Penduduk (PPAPP) didesak membuka posko pengaduan KDRT di tingkat RW.

SHUTTERSTOCK/JIRIS via Kompas
Ilustrasi KDRT 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Dionisius Arya Bima Suci

TRIBUNJAKARTA.COM, GAMBIR - Marak fenomena kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang terjadi belakangan ini jadi perhatian serius Komisi E DPRD DKI Jakarta.

Pemprov DKI melalui Dinas Pemberdayaan, Perlindungan Anak dan Pengendalian Penduduk (PPAPP) didesak membuka posko pengaduan KDRT di tingkat RW.

Para petugas posko pun diharapkan dibekali dengan pengetahuan mengenai penanganan bagi korban untuk mencegah hal buruk pascaterjadinya KDRT.

“Dengan adanya posko di tingkat RW, nantinya petugas bisa memberikan sosialisasi kepada masyarakat, sehingga bisa tahu kondisi yang dialami,” ucap Ketua Komisi E DPRD DKI Iman Satria dalam keterangan tertulis, Minggu (17/12/2023).

Politikus senior Gerindra ini melanjutkan, kasus KDRT sejatinya banyak terjadi, namun tak terungkap.

Oleh karena itu, perlu sosialisasi yang masif dari pemerintah supaya masyarakat berani menyuarakan keluhan-keluhannya.

Ia juga meminta, psikiater dan psikolog disiapkan di setiap posko untuk memberikan penyuluhan tentang rumah tangga, serta pendampingan untuk menyembuhkan trauma para korban yang mengalami KDRT.

“Jadi kalau ada apa-apa bisa langsung lari ke tempat itu, nah karena itu harus dekat dengan masyarakat. Kalau di tingkat kecamatan kan kejauhan, cakupannya dikecilkan lagi. Kalau bisa di pos RW, itu harus ada,” ujarnya. 

Selama periode 1 Januari sampai 20 Juni 2023, Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (Simfoni) Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPA) mencatat, ada 781 kasus KDRT di ibu kota.

Angka ini menempatkan Jakarta di urutan ketiga dengan jumlah kasus KDRT terbanyak di Indonesia.

Iman Satria pun mengimbau para korban KDRT untuk tidak takut melapor untuk meminimalisir dampak terhadap psikologis.

“KDRT inu kan memang agak susah ya, ada yang yang takut melaporkan. Ada yang takut untuk dibawa ke permukaan, malu dan lain-lain ya,” tuturnya.

Sebagai informasi, fenomena KDRT belakangan memang marak terjadi, teranyar terjadi di Jakarta Utara saat seorang anak jadi korban kekerasan sang ayah.

Korban diketahui bernama Kurniawan alias Awan (10) yang tewas dibanting ayahnya, Usmanto (44) di Penjaringan, Jakarta Utara pada Rabu (13/12/2023) kemarin.

Insiden ini bermuka saat Awan tak sengaja menabrak temannya saat bermain sepeda hingga mengalami memar.

Emosi dengan hal tersebut, Usmanti melampiaskannya dengan menendang, memukul, hingga membanting anaknya sampai tewas.

Baca artikel menarik lainnya TribunJakarta.com di Google News

Sumber: Tribun Jakarta
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved