BP2MI Minta Pemerintah Lobi Negara Penempatan untuk Buka Sektor Baru Buat Pekerja Migran Indonesia

Benny Rhamdani mendorong pemerintah untuk melobi negara-negara penempatan PMI supaya membuka sektor-sektor pekerjaan baru.

Gerald Leonardo Agustino/TribunJakarta.com
BP2MI menargetkan memberangkatkan 300.000 pekerja migran Indonesia ke negara-negara penempatan di tahun 2024. 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Gerald Leonardo Agustino

TRIBUNJAKARTA.COM, KELAPA GADING - Kepala Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI), Benny Rhamdani, mendorong pemerintah untuk melobi negara-negara penempatan PMI supaya membuka sektor-sektor pekerjaan baru.

Pasalnya, menurut Benny saat ini pilihan sektor pekerjaan yang ada masih cukup minim dan hanya mencakup beberapa bidang.

Benny berharap ke depan para Pekerja Migran Indonesia (PMI) juga dapat merambah bidang lain, seperti pertanian hingga kesehatan. 

"Kita tidak hanya ingin peningkatan itu di rumah saja, tapi juga sektor-sektor pekerjaan, ya ini tugas negara untuk melakukan diplomasi dengan negara penempatan," kata Benny di Kelapa Gading, Jakarta Utara, dikutip Rabu (17/1/2024).

"Misalnya Korea Selatan, jangan hanya manufaktur, tetapi bagaimana sektor logistik, sektor pertanian, hospitality, dan seterusnya," sambung dia.

Untuk meyakini pembukaan sektor-sektor pekerjaan baru di negara penempatan, Benny lantas memamerkan segudang pencapaian BP2MI selama masa kepemimpinannya.

Menurutnya, BP2MI terus mengalami berbagai kemajuan, salah satunya adalah peningkatan permintaan tenaga kerja Indonesia dari berbagai negara. 

“Korea misalnya dulu sebelum saya memimpin BP2MI itu hanya mentok di angka 7.000 (PMI) per tahun. Tapi ini kan perubahan besarnya kemudian mendekati angka 12.000 per tahun," ungkapnya.

Sementara itu, lanjut Benny, di tahun 2024 ini BP2MI menargetkan keberangkatan total 300.000 PMI bisa bekerja ke negara penempatan.

Yakni dengan program private to private (P to P) atau program swasta dan juga government to government (G to G) atau program pemerintah ke negara tujuan seperti Korea Selatan dan Jerman.

"G to G-nya kan baru tiga ya, ada Jepang, Jerman, dan Korsel. Saya sudah mengusulkan kepada Kemenaker, kepada presiden bahkan, agar penempatan G to G ini diperluas," tutupnya.

Baca artikel menarik lainnya TribunJakarta.com di Google News

Sumber: Tribun Jakarta
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved