Kunjungan Paus Fransiskus
Dari Papua ke Jakarta Demi Bertemu Paus Fransiskus, Regi Belau: Merinding Bisa Melihat dari Dekat
Kehadiran Paus Fransiskus di Gereja Katedral Jakarta disambut antusias oleh umat Katolik.
Penulis: Dionisius Arya Bima Suci | Editor: Nur Indah Farrah Audina
Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Dionisius Arya Bima Suci
TRIBUNJAKARTA.COM, SAWAH BESAR - Kehadiran Paus Fransiskus di Gereja Katedral Jakarta disambut antusias oleh umat Katolik.
Pantauan TribunJakarta.com di lokasi, mereka tampak sudah memadati trotoar di depan Gereja Katedral sejak siang tadi.
Satu dari ratusan umat Katolik yang tumpah ruah di depan Katedral Jakarta itu ialah Regi Belau (40), wanita asal Timika, Papua yang jauh-jauh datang dari kampung halamannya untuk bertemu Paus Fransiskus.
Ia tampak nyentrik dengan pakaian warna terang lengkap dengan penutup kepala ala Papua yang biasa digunakan saat acara-acara penting.
“Saya dari Dekenat Moni Puncak, Kabupaten Intan Jaya, Keuskupan Timika. Saya baru tiba di Jakarta tadi malam,” ucapnya saat ditemui di depan Gereja Katedral Jakarta, Sawah Besar, Jakarta Pusat, Rabu (4/9/2024).
“Ini saya pakai topi kehormatan Papua, dipakai saat acara, baik itu acara gereja, pemerintahan, maupun adat. Ini menandakan kita menunjukkan sukacita, kegembiraan,” sambungnya.
Ia mengaku datang bersama ratusan jemaat Katolik lainnya dari Papua untuk bertemu dengan Paus Fransiskus.
Regi pun mengaku sangat bahagia perjuangannya menempuh jarak ribuan kilometer dengan biaya sendiri terbayar.
“Saya sukacita, gembira, tidak sia-sia saya datang dari Papua. Saya benar-benar melihat bapa Paus dari dekat, tangannya, wajahnya, benar-benar dekat,” ujarnya.
Ia pun berharap, kehadiran Paus Fransiskus di Indonesia bisa membawa sukacita bagi seluruh umat Katolik di Tanah Air.
Tak hanya itu, ia juga berharap, kehadiran Paus Fransiskus juga diharapkan bisa menjadi simbol pemersatu bangsa.
“Harapannya perubahan, tidak lain harapan kami, khususnya orang Papua adalah perubahan, perubahan cara berpikir, cara bertindak, yang baik, positif sehingga terus toleran,” tuturnya.
“Kerja sama tanpa membedakan manusia yang ada di Indonesia dan Papua, sehingga kita bisa hidup nyaman, damai, senang, dan penuh sukacita,” sambungnya.
Akses TribunJakarta.com di Google News atau WhatsApp Channel TribunJakarta.com. Pastikan Tribunners sudah install aplikasi WhatsApp ya
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.