Cerita Sakitnya Fero Hapus Tato di Bagian Leher, Tak Kapok Asal Tubuhnya Bisa Bersih

Sejak mengisi formulir pendaftaran untuk mengikuti hapus tato gratis yang digelar Baznas Bazis DKI Jakarta, Fero (30) mengaku sudah cemas.

Elga Hikari Putra/TribunJakarta.com
Peserta hapus tato. Fero (30) menunjukkan lehernya seusai dilakukan hapus tato. Ia mengaku hapus tato jauh lebih sakit dibandingkan saat membuatnya. (TRIBUNJAKARTA.COM/ELGA PUTRA). 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com Elga Hikari Putra

TRIBUNJAKARTA.COM, KEMBANGAN - Sejak mengisi formulir pendaftaran untuk mengikuti hapus tato gratis yang digelar Baznas Bazis DKI Jakarta, Fero (30) mengaku sudah cemas.

Pasalnya, ia sudah tahu akan informasi jika menghapus tato jauh lebih sakit dibandingkan saat membuatnya.

Apalagi, tato yang ingin dihapusnya berada di tangan yang dekat dengan nadi dan di leher. Dimana dua titik itu merupakan salah satu area yang cukup sakit untuk ditato.

Untungnya Fero datang bersama temannya yakni Travi (30) yang juga ingin menghapus tatonya sehingga dia bisa sedikit lebih tenang.

"Jujur ini deg-degan dari tadi karena kan kalau dihapus itu jauh lebih sakit katanya," kata Fero saat ditemui TribunJakarta.com di aula Masjid kantor Wali Kota Jakarta Barat yang jadi lokasi hapus tato, Senin (17/3/2025).

Fero mengaku alasan utamanya menghapus tato karena tak nyaman saat bekerja. Sebab, dua tatonya itu berada di bagian yang terlihat.

"Terus juga udah bosen tatoan," katanya yang mengaku sudah bertato sejak tahun 2012 silam.

Setelah menunggu sekira dua jam dan dipotong waktu istirahat Zuhur, tibalah Fero dan Travi untuk menjalani proses hapus tato.

Keduanya menjalani hapus tato di dalam bilik khusus peserta perempuan sehingga tak bisa dilihat.

Sekira 15 menit Fero menjalani proses hapus tato edisi perdananya. Namun baginya waktu tersebut terasa begitu lama.

"Sakit banget, banget, banget, banget," kata dia seusai menjalani penghapusan tato.

"Pas di lehernya itu sakit banget sampai berhenti-berhenti dulu," ujarnya melanjutkan sembari memegang lehernya yang kini diperban agar tak infeksi.

Fero mengatakan masih harus menjalani proses hapus tato sekira dua kali lagi agar tato di leher dan tangannya itu bisa hilang sepenuhnya.

Ia mengaku cukup beruntung karena tatonya itu hanya berwarna hitam sehingga tak sesakit jika tatonga berwarna seperti yang dimiliki Travi.

"Kalau berwarna lebih sakit lagi," kata dia.

Kendati merasakan sakit yang begitu luar biasa, Fero mengaku tak kapok dan akan tetap melanjutkan proses penghapusan tato di tubuhnya.

"Udahlah sekalian aja mending hilang kan tatonya," ujarnya.

Akses TribunJakarta.com di Google News atau WhatsApp Channel. Pastikan Tribunners sudah install aplikasi WhatsApp ya

Sumber: Tribun Jakarta
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved